Translate

Selasa, 26 Juni 2012

Minyak Atsiri Jahe

Iseng-iseng belajar tentang minyak atsiri jahe, dapetin post yang bagus banget dari mbak emma (http://emmakhairaniharahap.blogspot.com), bisa dijadikan pelajaran bagi anda semua yang tertarik dengan produk jahe dan turunannya...baca bab per bab ya (heheh kayak buku saja), buat mbak emma thanks dan ijin copas, keep posting and sharing !!!!!!


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Bangsa Indoesia adalah bangsa yang kaya akan rempah-rempah, sehingga bangsa Indonesia dikenal di dunia internasional. Adapun rempah- rempah itu berasal dari tanaman- tanaman seprerti jahe, nilam, cengkeh, pala, kapulaga, sereh wangi, mawar, dan lain-lain.
Secara internasional rempah-rempah dari tanaman ini dibuat sebagai obat-obatan atau bumbu dapur, minuman, dan makanan kecil. selain itu digunakan sebagai bahan industry, parfum, minuman, obat-obatan, kosmetik, dan makanan. Dari semua di atas terdapat olahan lebih lanjut yang terpenting dalam rangka industry yaitu minyak atsiri dan oleoresin. Minyak atsiri biasa disebut minyak terbang karena sifatnya nudah menguap.
Salah satu tanaman penghasil minyak atsiri adalah jahe (zingiber officinale roscoe) telah lama dikenal dan tumbuh baik di Indonesia. Pengertian jahe di Indonesia adalah batang yang tumbuh baik di Indonesia. 
Jahe merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun berbatang semu. Jahe berasal dari asia pasifik yang tersebar dari india sampai cina. Oleh karena itu kedua bangsa ini disebut-sebut sebagai bangsa yang pertaama kali memanfaatkan jahe terutama sebagai bahan minuman, bumbu masak, dan obat-obatan tradisional.
Jahe termasuk dalam suku temu-temuan (zingiberaceae), se-famili dangan temu-temuan lainnya seperti temu lawak (cucuma xanthorrizha), temu hitam (curcuma aeruginosa), kunyit, (curcuma domestica), kencur(kaempferia galanga), lengkuas (languas galanga), dan lain-lain.

B.      Uraian tanaman
Klasifikasi
Devisi: spermathophyta
Sub devisi: angiospermae
Kelas: monocotyledoneae
Ordo: zingiberales
Family: zingiberaceae
Genus: zingiber
Spesies: zingiber officinale
 Minyak atsiri dari jahe dapat di peroleh dengan empat metode yaiu:
-penyulingan (destilation)
-ekstraksi dengan pelarut penguap
-pengempaan
-absorpsi dengan lemak padat
Sedangakan penyulingan terbagi 3 metode yaiitu:
a)      Penyulingan dengan air
b)      Penyulingan dengan uap air
c)      Penyulingan dengan uap
Dari ketiga metode penyulingan yang paling baik digunakan adalah penyulingan dengan uap ( steam distillation).
C.     Maksud dan tujuan
1.      Maksud
a)      Untuk mengetahui minyak jahe secara umum
b)      Menggali sumber baru tentang minyak jahe yang telah lama dikenal.
2.      Tujuan
a)      Mengetahui dan mempelajari teknik penyulingan minyak jahe
b)      Untuk mengetahui minyak jahe yang di peroleh dari hasil penyulingan rimpang jahe
c)      Untuk mengetahui bagaimana pengaruh waktu terhadap perolehan jumlah minyak jahe pada proses penyulingan.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Pengertian minyak atsiri
Minyak atsiri, atau dikenal juga sebagai minyak eteris (Aetheric Oil), minyak esensial, minyak terbang, serta minyak aromatik, adalah kelompok besar minyak nabati yang berwujud cairan kental pada suhu ruang namun mudah menguap sehingga memberikan aroma yang khas.
Kegunaan minyak atsiri sangat luas dan spesifik, khususnya dalam berbagai bidang industry. Banyak contoh kegunaan minyak atsiri  antara lain:
a.       Dalam industry kosmetik digunakan sebagai sabun, shampoo, pasta gigi.
b.      Dalam industry makanan digunakan sebagai penyedap makanan.
c.       Dalam industry parfum digunakan sebagai pewangi dalam berbagai produk minyak wangi.
d.      Dalam industry  farmasi digunakan sebagai anti nyeri, anti infeksi, pembunuh bakteri.
e.       Dalam industry bahan pengawet dan sebagai insektisida.

B.     Sejarah Singkat Jahe
Jahe merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun berbatang semu. Jahe berasal dari Asia Pasifik yang tersebar dari India sampai Cina. Oleh karena itu kedua bangsa ini disebut-sebut sebagai bangsa yang pertama kali memanfaatkan jahe terutama sebagai bahan minuman, bumbu masak dan obat-obatan tradisional. Jahe termasuk dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae), se-famili dengan temu-temuan lainnya seperti temu lawak (Cucuma xanthorrizha), temu hitam (Curcuma aeruginosa), kunyit (Curcuma domestica), kencur (Kaempferiagalanga), lengkuas (Languas galanga) dan lain-lain. Daerah jahe antara lain halia (Aceh), beeuing (Gayo), bahing (Batak Karo), sipodeh (Minangkabau), jahi (Lampung), jahe (Sunda), jae (Jawa dan Bali), jhai (Madura), melito (Gorontalo), geraka (Ternate), dsb. Dari India, jahe dibawa sebagai rempah perdagangan hingga Asia Tenggara, Tiongkok, Jepang, hingga Timur Tengah. Kemudian pada zaman kolonialisme, jahe yang bisa memberikan rasa hangat dan pedas pada makanan segera menjadi komoditas yang populer di Eropa.
Karena jahe hanya bisa bertahan hidup di daerah tropis, penanamannya hanya bisa dilakukan di daerah katulistiwa seperi Asia Tenggara, Brasil, dan Afrika. Saat ini Equador dan Brasil menjadi pemasok jahe terbesar di dunia.
C.     Deskripsi jahe
Jahe tergolong tanaman herba, tegak, dapat mencapai ketinggian 40 – 100 cm dan dapat berumur tahunan. Batangnya berupa batang semu yang tersusun dari helaian daun yang pipih memanjang dengan ujung lancip. Bunganya terdiri dari tandan bunga yang berbentuk kerucut dengan kelopak berwarna putih kekuningan.
Akarnya sering disebut rimpang jahe berbau harum dan berasa pedas. Rimpang bercabang tak teratur, berserat kasar, menjalar mendatar. Bagian dalam berwarna kuning pucat.
D.    Komponen Utama
Rimpang jahe putih besar mengandung minyak atsiri, pati, resin, asam-asam organic, asam malat, asam oksalat, dan gingerol. Sifat khas jahe disebabkan adanya minyak atsiri dan oleoresin jahe. Aroma harum jahe disebabkan oleh minyak atsiri, sedangkan oleoresinnya menyebabkan rasa pedas. Minyak atsiri dapat diperoleh atau diisolasi dengan destilasi uap dari rhizoma jahe kering. Ekstrak minyak jahe berbentuk cairan kental berwarna kehijauan sampai kuning, berbau harum tetapi tidak memiliki komponen pembentuk rasa pedas. Kandungan minyak atsiri dalam jahe kering sekitar 1 – 3 persen. Komponen utama minyak atsiri jahe yang menyebabkan bau harum adalah zingiberen dan zingiberol.
Zingiberin (C15H24) adalah senyawa paling utama dalam minyak jahe. Senyawa ini memiliki titik didih 340 C pada tekanan 44 mm, dengan berat jenis pada 200C adalah 0,8684. Indeks biasnya 1,4956 dan putaran optic 730 38’ pada suhu 200 C. Selama penyimpanan zingiberence akan mengalami resinifikasi. Sementara zingiberol merupakan seskwiterpen alcohol (C15H26O) yang menyebabkan aroma khas pada minyak jahe.

     



RUMUS BANGUN ZINGIBEREN (C15H24)

          CH3
             |
          CH                  CH2
                                     
    
CH3              CH                 CH
     
   
 CH2             CH                   C
       
                                 CH                 CH3
         CH
         
          
                    C
                 
        
        CH3               CH3



5R)-2-Metil-5-[(2S)-6-metilhept-5-en-2-il]sikloheksa-1,3-diena
Sifat Rumus molekul C15H24
- Massa molar 204,35 g/mol
- Densitas 0,8713 g/cm3 pada 20 °C Titik didih
- Titik didih 134-135 °C pada 15 Torr

(ZINGEROL)

OH                                CH3
 |                                          |
C6H3-CH2-CH2-CO-CH2-CH-(CH2)n-CH3
 |
H3CO
           
  • Tanaman jahe mengandung minyak atsiri 0,6-3% yang terdiri dari α- pinen, β-phellandren, borneol, limonene, linalool, citral, nonylaldehyde, decylaldehyde, methyleptenon, 1,8 sineol, bisabilen, 1-α-curcumin, farnese, humulen, 60% zingiberen dan zingiberole menguap, zat pedas gingerol. Kandungan minyak tidak menguap disebut oleoresin, suatu komponen yang memberi rasa pahit.
  • Komponen dalam oleoresin jahe terdiri atas gingerol dan zingiberen, shagaol,minyak atsiri dan resin. Pemberi rasa pedas dalam jahe yang utama adalah zingerol.
  • rimpang jahe juga mengandung flavonoid, 10- dehydrogingerdione, gingerdione, arginine, linolenic acid, aspartia acid , kanji, lipid, kayu damar, asam amino, protein, vitamin A dan niacin serta mineral. Kadar olesinnya mencapai 3%.
  • Asam-asam organik seperti asam malat dan asam oksalat, Vitamin A, B (colin dan asam folat), dan C, senyawa- senyawa flavonoid, polifenol, aseton ,methanol, cineole, dan arginine.
E.     Efek farmakologi
  • peluruh dahak atau obat batuk, peluruhkeringat, peluruh haid, pencegah mual dan penambah nafsu makan.
  • Antiseptik, circulatory stimulant, diaphoretic,peripheral vasodilator3.
  • membuang angin, memperkuat lambung, memperbaiki pencernaan dan menghangatkan badan.
  • obat karminatifa, diafiretika, dan stimulansiadengan dosis Pemakaian 0,5 gram sampai 1,2 gram.
  • Minyak atsirinya mempunyai efek antiseptic, antioksidan dan mempunyai aktifitas terhadap bakteri dan jamur.
  • Secara tradisional digunakan untuk obat sakit kepala, gangguan pada saluran pencernaan, stimulansia, diuretic, rematik, menghilangkan rasa sakit, mabuk perjalanan, dan sebagai obat luar untuk mengobati gatal-gatal akibat gigitan serangga, keseleo, bengkak, serta memar.
  • Berbagai penelitian juga menyebutkan bahwa jahe memiliki efek antioksidan dan antikanker.
  • ekstrak jahe memberiefek positif terhadap respons proliferatif dan sitolitik limfosit,selain itu ekstrak etanol jahe segarsecara in vitro meningkatkan proliferasi splenosit dan menurunkan tingkat kematian sel.
  • Jahe juga mengandung bahan antioksidan diantaranya senyawa flavonoid dan polifenol,asam oksalat dan vit C,antioksidan ini dapat membantu menetralkan efek merusak yang di sebabkan oleh radikal bebas dalam tubuh.
  • Melindungi system pencernaan dengan menurunkan keasaaman lambung dan menghambat terjadinya iritasi pada saluran pencernaan hal ini karena jahe mengandung senyawa aseton dan methanol.
  • Jahe mengandung senyawa cineole dan arginine yang memiliki manfaat memperkuat daya tahan sperma.
F.      Jenis Tanaman
Jahe dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan ukuran, bentuk dan warna rimpangnya. Umumnya dikenal 3 varietas jahe, yaitu :
1) Jahe putih/kuning besar atau disebut juga jahe gajah atau jahe badak rimpangnya lebih besar dan gemuk, ruas rimpangnya lebih menggembung dari kedua varietas lainnya. Jenis jahe ini bias dikonsumsi baik saat berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe olahan.
2) Jahe putih/kuning kecil atau disebut juga jahe sunti atau jahe emprit. Ruasnya kecil, agak rata sampai agak sedikit menggembung. Jahe ini selalu dipanen setelah berumur tua. Kandungan minyak atsirinya lebih besar dari pada jahe gajah, sehingga rasanya lebih pedas, disamping seratnya tinggi. Jahe ini cocok untuk ramuan obat-obatan, atau untuk
diekstrak oleoresin dan minyak atsirinya.
3) Jahe merah
Rimpangnya berwarna merah dan lebih kecil dari pada jahe putih kecil. Sama seperti jahe kecil, jahe merah selalu dipanen setelah tua, dan juga memiliki kandungan minyak atsiri yang sama dengan jahe kecil, sehingga cocok untuk ramuan obat-obatan.


G.    Gingerol dari Rimpang Jahe
  1. Struktur kimia, sifat dan golongan
  2. Struktur
Rumus molekul gingerol C17H26O4.
Nama sistematik : (S)-5-hidroksi-1-(4-hidroksi-3-methoxyphenyl)-3-dekanon2.
 
Gambar 2. Struktur gingerol.
Senyawa gingerol memiliki banyak gugus hidroksil sehingga bersifat polar.zat pedas gingerol yaitu: (6)-gingerol 6085%; (4)-gingerol;(8)-gingerol 5-15%, (10)-gingerol 6-22% (12)-gingerol; (6)-methylgingerdiol.Gingerol merupakan senyawa yang labil terhadap panas baik selama penyimpanan maupun pada waktu permrosesan, sehingga gingerol sulit untuk dimurnikan, dan akan berubah menjadi shogaol. Tingkat kepedasan menentukan kualitas minyak jahe. Metode yang paling sederhana untuk menilai tingkat kepedasan  adalah dengan organoleptic karena sangat subyektif dan  mempunyai hasil yang berbeda-beda. Hal tersebut dapat diatasi dengan menggunakan HPLC.

Sifat kimia fisika dari gingerol:
  • Berat molekul: 294,39 g/mol.
  • Bentuk: minyak berwarna kuning muda atau kristal.
  • Penyimpanan: disimpan dalam wadah tertutup rapat.
  • Massa jenis: 1,083 g/cm3.
  • Titik didih: 453oC.
Gingerol merupakan golongan fenol yang merupakan desinfektan yang paling umum yang digunakan di laboratorium sebagai penghambat pertumbuhan kuman atau membunuhnya. Kandungan gingerol dalam minyak jahe sekitar 20 sampai 30 persen berat jahe.
  • Rimpang  jahe juga mengandung flavonoid, 10- dehydrogingerdione, gingerdione, arginine-á, linolenic acid, aspartia acid , kanji, lipid, kayu damar, asam amino, protein, vitamin A dan niacin serta mineral. Kadar olesinnya mencapai 3%.
  • Asam-asam organik seperti asam malat dan asam oksalat, Vitamin A, B (colin dan asam folat), dan C, senyawa- senyawa flavonoid, polifenol, aseton ,methanol, cineole, dan arginine.
  • Senyawa utama dalam  tanaman jahe,yaitu gingerol.Gingerol merupakan golongan dari fenol dari poliketida pada jalur asam asetat.
Table sifat fisika kimia minyak jahe dari berbagai jenis
NO
Spesifikasi
Jahe putih besar
Jahe putih kecil
Jahe merah
1
Air (%)
82,0
50,2
81,0
2
Minyak (dry basis, %)
1,18-1,168
3,3
2,58-2,72
3
B.D. 15/15
0,8907-0,9685
0,9070-0,9207
0,8998-0,9476
4
Indeks bias 200 C
1,4855-1,4939
1,4891-1,4895
1,4841-1,4899
5
Putaran optic
Not visible
+1.220
Not visible
6
Bilangan asam
1,3-11,5
3,2-3,79
3,6-9,22
7
Bilangan ester
21,4-57,0
10,2-14,5
31,2-62,5
8
Bilangan ester sesudah asetilasi
95,2
5-165,4
143,2
9
Kelarutan dalam alkohol
1:1 clear,
 further clear
1:1 clear, further clear
1:1 clear, further clear
Dalam istilah perdagangan internasioal minyak atsiri jahe dikenal dengan nama ginger oil. Adapun karakteristik minyak atsiri jahe menurut standart EOA adalah sebagai berikut:
a.       Warna : kuning
b.      Bobot jeniss 250 C : 0,871-0,882
c.       Indeks bias 200 C : 1,486-1,492
d.      Putaran optic : (-280 C) – (-450 C)
e.       Bilangan penyabunan : maksimum 20


BAB III
METODE PRODUKSI
A.    Penyulingan
a.       Penyulingan dengan air
Bahan yang akan di suling berkontak langsung dengan air yang mendidih. Bahan ini dapat mengapung atau  tenggelam, tergantung berat jenis bahan dan jumlah bahan yang akan di sulig dan di masukkan kedalam ketel. Pemanasannya dapat dilakukan dengan menggunakan pemanasan langsung, mantel uap, ataupun pipa uap dalam spiral terbuka atau berlubang. Kecepatan penyulingan dapat di atur melalui intensitas apinya, juga harus sesuai dengan keadaan alat dan bahan yang akan di suling. diusahakan ada penambahan air untuk menjaga agar bahan tidak terlalu panas dan pengisian bahan tidak terlalu penuh.

b.      Penyulingan dengan air dan uap
Bahan olahan diletakkan di atas rak-rak atau saringan berlubang. Ketel sulingnya di isi air hingga tidak berada jauh di bawah sarigan. Pemanasan air dapat dilakukan dengan uap jenuh yang basah dengan bertekanan rendah jika bahannya dalam jumlah yang banyak. Keuntungan alat ini adalah uap selalu dalam keadaan panas, jenuh, dan tidak panas. Dengan demikian penggunaan alat ini lebih unggul, dilihat dari penggunaan bahan bakar yang sedikit. Akan tetapi proses penyulingan lebih lama. Dalam beberapa keadaan, tekanan  uap yang rendah akan menghasilkan minyak atsiri  berkualitas baik.

c.       Penyulingan dengan uap
Penyuingan dengan uap ini prinsipnya sama dengan penyulingan air dan uap. Perbedaan air tidak dimasukkan  dalam ketel penyulingan. Uap yang digunakan adalah uap jenuh atau  uap yang kelewat panas pada tekanan di atas 1 atm. Uap dialirkan melalui pipa uap spiral berlubang yang terletak dibagian bawah bahan. Kemudian uap bergerak keatas melalui bahan yang ada disaringan. Penyulingan ini merupakan yang terbaik di bandingkan kedua jenis penyulingan tadi, jika ditinjau dari segi biaya, kecepatan penyulingan, kapasitas minyak yang dihasilkan.
Adapun alat-alat  penyulingan terdiri dari:
Peralatan Penyulingan
Alat-alat yang diperlukan dalam penyulingan tergantung pada banyaknya bahan dan metode penyulingan yang dilakukan. Ada tiga bagian alat yang merupakan peralatan dasar, yaitu : ketel suling (retor), pendingin (kondensor), dan penampung hasil kondensasi (receiver), sedangkan untuk penyulingan uap diperlukan bagian tambahan yaitu ketel uap.

1.Ketel Suling (retor), berfungsi sebagai wadah air dan atau uap untuk mengadakan kontak dengan bahan serta untuk menguapkan minyak atsiri.
2.Pendingin (kondensor), berfungsi untuk mengubah seluruh uap air dan uap minyak menjadi fase cair. Kondensor terdiri dari 4 tipe, yaitu : kondensor kisi, kondensor pipa lurus, kondensor berpilin, kondensor tubular.
3.Penampung hasil kondensasi (receiver) yang berupa alat pemisah minyak (decanter) yang berfungsi untuk memisahkan minyak dari air suling (condesed water), dimana air suling tersebut akan terpisah secara otomatis dari minyak atsiri.
4. Ketel uap berfungsi sebagai sumber penghasil uap.

Kelemahan – kelemahan Metode Penyulingan
1.Penyulingan dengan uap air atau air mendidih yang relatif lama cenderung merusak komponen minyak karena proses hidrolisasi, polimerisasi, dan resinifikasi.
2.Komponen minyak yang bertitik didih tinggi, khususnya yang larut dalam air tidak dapat diangkut oleh uap air sehingga rendemen minyak yang dihasilkan lebih rendah.
3.Komponen tertentu dapat terurai di dalam air suling dan tidak dapat diperoleh kembali.
B.     Ekstraksi
Alat ekstraksi atau ekstraktor menghasilkan bentuk minyak  atsiri dari bahan yang di ekstraksi. Ada 2 cara mengekstraksi yaitu mengekstraksi dengan lemak dingin, dan ekstraksi dengan  menguap. Untuk mengekstaksi  jahe menjadi oleoresin biasanya menggunakan cara dengan pelarut menguap. Alat ekstaksi ini umunya tersusun atas tangki air, ketel uap, kondensor, serta bangunan ekstraksi yang terdiri atas alat penyuling dan beberapa tabung.
Bahan pelarut dialirkan secara terus-menerus melalui suatu penampang kedalam tabung berisi bahan. Teknik yang digunakan adalah teknik arus berlawanan sampai ekstraksi selesai. Cairan ekstrak disalurkan ke dalam tabung hampa udara dan dipanaskan pada suhu tertentu untuk menguapkan pelarut dalam ekstrak. Uap pelarut yang timbul dialirkan dalam kondensor untuk mencairkan kembali pelarutnya, sedangkan unsure- unsur yang tertinggal dalam tabung merupakan unsur tumbuhan yang bersifat lilin padat yang biasa disebut concrete. Concrete ini sebenarnya sudah meerupakan oleoresin, tetapi masih kasar sehingga masih perlu dilakukan ekstraksi ulang dengan mencampurkan pelarut dalam concrete.
Ekstrak ini dipanaskan pada suhu tertentu antara 30-400 C untuk memperoleh oleoresin absolute hasil pada ekstraksi kedua masih perlu diekstraksi lagi pada suhu 300 C dengan menambahkan pelarut alcohol. Walaupun sudah dilakukan ekstraksi sebanyak 3 kali terhadap bubuk jahe oleoresin masih belum juga murni. Oleoresin ini masih mengandung pelarut, yang dapat merepotkan dalam menentukan kulitasnya.
Oleoresin jahe Adalah hasil pengolahan lebih lanjut dari tepung jahe. Bentuknya berupa cairan cokelat dengan kandungan minyak asiri 15 hingga 35%.

BAB IV
KESIMPULAN
 Jahe merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun berbatang semu. Jahe berasal dari asia pasifik yang tersebar dari india sampai cina.
Jahe termasuk dalam suku temu-temuan (zingiberaceae), se-famili dangan temu-temuan lainnya seperti temu lawak (cucuma xanthorrizha), temu hitam (curcuma aeruginosa), kunyit, (curcuma domestica), kencur(kaempferia galanga), lengkuas (languas galanga), dan lain-lain.
Jahe termasuk dalam suku temu-temuan (zingiberaceae), se-famili dangan temu-temuan lainnya seperti temu lawak (cucuma xanthorrizha), temu hitam (curcuma aeruginosa), kunyit, (curcuma domestica), kencur(kaempferia galanga), lengkuas (languas galanga), dan lain-lain.
Komponen utama minyak atsiri jahe yang menyebabkan bau harum adalah zingiberen dan zingiberol.
Zingiberin (C15H25) adalah senyawa paling utama dalam minyak jahe. Senyawa ini memiliki titik didih 340 C pada tekanan 44 mm, dengan berat jenis pada 200C adalah 0,8684. Indeks biasnya 1,4956 dan putaran optic 730 38’ pada suhu 200 C. Selama penyimpanan zingiberence akan mengalami resinifikasi. Sementara zingiberol merupakan seskwiterpen alcohol (C15H26O) yang menyebabkan aroma khas pada minyak jahe. Kandungan minyak yang tidak menguap disebut oleoresin, suatu komponen yang memberi rasa pahit yang terdiri atas gingerol dan zingiberen, shagaol,minyak atsiri dan resin.
Adapun cara untuk memproduksi minyak jahe ialah :
1.Penyulingan,terbagi tiga yaitu:Penyulingan dengan air, Penyulingan dengan uap dan air, Penyulingan dengan uap
2. Ekstraksi
Ada 3 cara mengekstraksi yaitu mengekstraksi dengan lemak dingin, dan ekstraksi dengan  menguap.

DAFTAR PUSTAKA
1.      Widita,Prima   Widya,2009, Jahe       (ZingiberOfficinale) (Diakses Tanggal 26 November 2011 Jam 15.45)
2.      Tejasari, Fransiska-Rungkat Zakaria dan Dondin Sajuthi,2009,Ginger (Zingiber Officinale Roscue ) Root BioactiveCompounds Increased Cytolitic Response of NaturalKiller (Nk) Cells Against Leucemic Cell Line K-562 inVitro,Available
3.      Paimin, farry B. 2007. Budi daya, pengolahan, perdagangan jahe. Jakarta: penebar swadaya
4.      Budi santoso, Hieronymus. 1989. Jahe. Jakarta : kanisus.
5.      J.j. afriastinis, A. B. D. Modjo Indo. 1983. Bertanam jahe. Jakarta : penebar swadaya
6.      Anonym. 2001. Pengaruh waktu terhadap perolehan minyak atsiri pada penyulingan rimpang jahe. Medan : PTKI.

 

Senin, 25 Juni 2012

OLEORESIN JAHE

OLEORESIN JAHE

AMorfologi Tumbuhan Jahe

Tanaman jahe merupakan tanaman terna tahunan dengan batang semu yangtumbuh tegak. Tingginya berkisar 0,3-0,75 meter dengan akar rimpang yang bisa bertahan lama dalam tanah. Tanaman ini terdiri atas bagian akar, batang, daun, dan bunga. Akar merupakan bagian terpenting dari tanaman jahe. Pada bagian initumbuh tunastunas baru yang kelak akan menjadi tanaman. Batang tanamanmerupakan batang semu yang tumbuh tegak lurus. Batangnya terdiri dari seludang-seludang daun tanaman dan pelepah-pelepah daun yang menutupi daun. Daun jahe berbentuk lonjong dan lancip menyerupai daun rumput yang besar. Daun itusebelahmenyebelah berselingan dengan tulang daun sejajar sebagaimana tanamanmonokotil yang lainnya.Jahe dapat dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan ukuran, bentuk, danwarna rimpangnya, yaitu jahe putih atau jahe kuning besar, jahe putih kecil, dan jahemerah. Berdasarkan warna rimpang dikenal adanya jahe putih, jahe kuning, dan jahemerah. Dari segi bentuknya digolongkan menjadi jahe besar (jahe bedak) dan jahekecil. Untuk penelitian ini digunakan jahe kecil (emprit).

B.Komposisi Kimia Jahe
Jahe mengandung komponen minyak menguap (volatile oil ), minyak tak menguap      (non-volatile oil ), dan pati. Minyak menguap yang biasa disebut minyak atsiri merupakan komponen pemberi bau yang khas, sedangkan minyak yang tak menguap yang biasa disebut oleoresi merupakan komponen pemberi rasa pedas dan pahit. Komponen yang terdiri dari oleoresin merupakan gambaran utuh darikandungan jahe, yaitu minyak atsiri dan fixed oil  yang terdiri dari zingerol,shogaol, dan resin (Paimin dan Murhananto, 1991). Kandungan minyak atsiri dalam jahe kering sekitar 1-3 %. Komponen utamaminyak atsiri jahe yang menyebabkan bau harum adalah zingiberen dan zingiberol.Oleoresin jahe banyak mengandung komponen – komponen non volatil yangmempunyai titik didih lebih tinggi daripada komponen volatil minyak atsiri.Oleoresin tersebut mengandung komponen – komponen pemberi rasa pedas yaitu gingerol sebagai komponen utama serta shagaol dan zingeron dalam jumlah sedikit.Kandungan oleoresin jahe segar berkisar antara 0,4 – 3,1 persen.Menurut Wijayakusuma (2004), kandungan kimia jahe antara lain : asetates, bisabolene, caprilate, d-â-phallandrene, d-camphene, d-borneol, farnisol, kurkumin,khavinol, linalool, metil heptenone, n-nonylaldehide, sineol, zingerol zingiberene,vitamin A, B, dan C, asam organik tepung kanji, serat, sitral, allicin, alliin,diallydisulfida, damar, glukominol, resin, geraniol, shogaol, albizzin,zengediasetat,metilzingediol.



C.Senyawa Antioksidan Dalam Jahe

Jahe ( Zingiber officinale , Roscoe) merupakan jenis rempah-rempah yang paling banyak digunakan dalam berbagai resep makanan dan minuman. Secaraempiris jahe biasa digunakan masyarakat sebagai obat masuk angin, gangguan pencernaan, antipiretik, anti-inflamasi, dan sebagai analgesik. Berbagai hasil penelitian membuktikan bahwa jahe mempunyai sifat antioksidan.

Beberapa komponen bioaktif utama dalam jahe adalah : 4-diarilheptanoid, shogaol, gingerol,dan gingeron memiliki aktivitas antioksidan di atas vitamin E.Jahe ternyata mengandung berbagai senyawa fenolik yang dapat diekstrak dengan pelarut organik dan menghasilkan minyak yang disebut oloeresin. Dalamoloeresin jahe banyak terkandung senyawa fenolik seperti gingerol dan shogaolyang mempunyai aktivitas antioksidan yang tinggi melebihi aktivitas antioksidanvitamin E (Zakaria, 2005).

Komponen dalam jahe yaitu gingerol dan shogaolmempunyai aktifitas antirematik.Minyak jahe berisigingerolyang berbau harum khas jahe, berkhasiatmencegah dan mengobati mual dan muntah, misalnya karena mabuk kendaraan atau pada wanita yang hamil muda. Untuk mengetahui struktur molekul gingerol danshogaol dapat dilihat pada Gambar 3 dan 4.Jahe sekurangnya mengandung 19 komponen bio-aktif yang berguna bagitubuh. Komponen yang paling utama adalah gingerol yang bersifat antikoagulan,yaitu mencegah penggumpalan darah. Jadi mencegahtersumbatnya pembuluh darah, penyebab utama stroke, dan serangan jantung.

Gingerol diperkirakan jugamembantu menurunkan kadar kolesterol.Komponen-komponen pedas dari jahe seperti 6-gingerol dan 6-shogaol dikenalmemiliki aktivitas antioksidan cukup. Dari ekstrak jahe yang telah dibuang komponen volatilnya dengan destilasi uap, maka dari fraksi non volatilnnya setelah pemurnian ditemukan empat senyawa turunan gingerol dan empat macamdiarilheptanoid yang memiliki aktivitas antioksidan disebut sebagai antioksidan primer.

D.Khasiat Jahe

Sejak dulu Jahe dipergunakan sebagai obat, atau bumbu dapur dan anekakeperluan lainnya. Jahe dapat merangsang kelenjar pencernaan, baik untuk membangkitkan nafsu makan dan pencernaan.Jahe yang digunakan sebagai bumbu masak terutama berkhasiat untuk menambah nafsu makan, memperkuat lambung, dan memperbaiki pencernaan. Halini dimungkinkan karena terangsangnya selaput lendir perut besar dan usus olehminyak asiri yang dikeluarkan rimpang jahe. 
Minyak jahe berisi gingerol yang berbau harum khas jahe, berkhasiat mencegah dan mengobati mual dan muntah, misalnya karena mabuk kendaraan atau pada wanita yang hamil muda. Juga rasanya yang tajam merangsang nafsu makan,memperkuat otot usus, membantu mengeluarkan gas usus serta membantu fungsi jantung. Dalam pengobatan tradisional Asia, jahe dipakai untuk mengobati selesma, batuk, diare dan penyakit radang sendi tulang seperti artritis. Jahe juga dipakai untuk meningkatkan pembersihan tubuh melalui keringat.Penelitian modern telah membuktikan secara ilmiah berbagai manfaat jahe,antara lain :

·    Menurunkan tekanan darah. Hal ini karena jahe merangsang pelepasan hormon adrenalin dan memperlebar pembuluh darah, akibatnya darah mengalir lebih cepat dan lancar dan memperingan kerja jantungmemompa darah.
·     Membantu pencernaan, karena jahe mengandung enzim pencernaan yaitu protease dan lipase, yang masing-masing mencerna protein dan lemak.
 
·    Gingerol  pada jahe bersifat antikoagulan, yaitu mencegah penggumpalandarah. Jadi mencegah tersumbatnya pembuluh darah, penyebab utamastroke, dan serangan jantung. Gingerol juga diduga membantumenurunkan kadar kolesterol.
·     Mencegah mual, karena jahe mampu memblok serotoni, yaitu senyawakimia yang dapat menyebabkan perut berkontraksi, sehingga timbul rasamual. Termasuk mual akibat mabok perjalanan.
·   Membuat lambung menjadi nyaman, meringankan kram perut danmembantu mengeluarkan angin.
·       Jahe juga mengandung antioksidan yang membantu menetralkan efek merusak yang disebabkan oleh radikal bebas di dalam tubuh.


E.Jahe Sebagai Obat Praktis

Jahe merupakan pereda rasa sakit yang alami dan dapat meredakan nyerirematik, sakit kepala, dan migren. Caranya, minum wedang jahe 3 kali sehari. Bisa juga minum wedang ronde, mengulum permen jahe, atau menambahkan jahe saat pada soto, semur, atau rendang.

Daun jahe juga berkhasiat, antara lain dengan ditumbuk dan diberi sedikit air dapat dipergunakan sebagai obat kompres pada sakit kepala dan dapat dipercikan kewajah orang yang sedang menggigil. Sedangkan rimpangnya ditumbuk dan direbusdalam air mendidih selama lebih kurang ½ jam, kemudian airnya dapat diminumsebagai obat untuk memperkuat pencernaan makanan dan mengusir gas didalamnya, mengobati hati yang membengkak, batuk dan demam.Untuk mengobati rematik rematik siapkan 1 atau 2 rimpang jahe. Panaskanrimpang tersebut di atas api atau bara dan kemudian ditumbuk. Tempel tumbukan jahe pada bagian tubuh yang sakit rematik.

Cara lain adalah dengam menumbuk  bersama cengkeh, dan ditempelkan pada bagian tubuh yang rematik.Jahe juga dapat digunakan untuk mengobati luka karena lecet, ditikam bendatajam, terkena duri, jatuh, serta gigitan ular. Caranya rimpang jahe merah ditumbuk dan ditambahkan sedikit garam. Letakkan pada bagian tubuh yang terluka. Rimpang tumbuk juga dapat dipakai sebagai obat gosok pada penyakit gatalkarena sengatan serangga. Rimpang yang ditumbuk, dengan diberi sedikit garam, kemudian ditempelkan pada luka bekas gigitan ular beracun (hanya sebagai pertolongan pertama sebelum penderita dibawa ke dokter).Dengan dicampur lobak, jahe dapat digunakan untuk mengobati eksim.Parutan lobak dicampur dengan air jahe.

Air jahe dapat diperoleh dengan memarutrimpang jahe, lalu diperas. Ramuan ini dioleskan ke bagian kulit yang terkenaeksim. Biasanya dalam waktu 2 minggu saja penyakit sudah berkurang.Untuk mencegah mabuk perjalanan, ada baiknya minum wedang jahesebelum bepergian. Caranya: pukul-pukul jahe segar sepanjang satu ruas jari.Masukkan ke dalam satu gelas air panas, beri madu secukupnya, lalu diminum. Bisa juga menggunakan sepertiga sendok teh jahe bubuk, atau kalau tahan, makan duakerat jahe mentah.Sampai saat ini penggunaan oleoresin sangat luas.
Oleoresin dan minyak atsiri rempah-rempah banyak digunakan dalam industri makanan, minuman,farmasi, flavor, parfum, pewarna dan lain-lain. Oleoresin dalam industri pangan banyak digunakan sebagai pemberi cita rasa dalam produk-produk olahan daging(misalnya sosis, burger, kornet), ikan dan hasil laut lainnya, roti, kue, puding, sirup,saus dan lain-lain.Menurut Anonymous (2006a, 2006b, 2006c, 2006g dan Gilbertson, 1971), penggunaan oleoresin yang makin meluas telah mengakibatkan diproduksinyaoleoresin dalam berbagai bentuk olahan yang siap pakai. Produk-produk tersebutantara lain :
1.dispersed spices
2. fat-based spices dan
3.encapsulated spices
.
 Dispered Spices dibuat dengan mendispersikan oleoresin dalam suatu media pembawa tertentu. Dalam hal ini media pembawa yang sering digunakan yaitu bahan-bahan yang larut dalam air, seperti garam, tepung dan dekstrose. Dispered  spices banyak digunakan pada pembuatan minuman (soft
drink ) dan makanan-makanan yang kering, basah ataupun semi padat, misalnya kue-kue, biskuit, sosisdan makanan bayi. Pada fat-based spices oleoresin didispersikan pada lemak atauminyak (vegetable oil ).

Fat-based spices ini sering digunakan pada makanan yang berlemak, seperti salad dressing , saus dan makanan kaleng. Dispered spices dan fat-based spices tidak dapat disimpan lama karena flavornya mudah menguap.

Pada encapsulated spices , oleoresin dalam bentuk bubuk (spray dried ) dikapsulkan untuk mengurangi kehilangan flavor, sehingga dapat disimpan lebih lama (Staniforth,1973).Teknik enkapsulasi pada oleoresin ini, dimana flavor diperangkap dalamsuatu pelapis polimer membentuk mikrokapsul bulat dengan ukuran antara puluhanmikron sampai beberapa milimeter. Adapun teknik mikroenkapsulasi yang sekarang banyak digunakan secara komersial antara lain:
Spray drying, air suspensioncoating, spray cooling and spray chilling , centrifugal axstrusion, rotational  suspension separation dan inclusion complexing. Saat ini teknik  spray drying  merupakan teknik enkapsulasi yang paling banyak digunakan untuk oleoresin.Menurut Koswara (2005), oleoresin yang dienkapsulasi sangat efektif digunakandalam makanan olahan, proses pengisian, pencampuran kering, permen, makananformula, bumbu-bumbuan, makanan penutup, produk-produk susu dan lain-lain.Ada beberapa kentungan dari penggunakan enkapsulasi ini antara lain: (1).Flavor dapat terlindung dari kehilangan (penguapan) dalam masa penyimpanan yanglama, (2) mudah dituangkan, (3) mudah ditimbang, ditangani dan dicampurkan, (4) bebas dari enzim tannin, mikroba dan serangga, (5) mudah digunakan dalam pencampuran bahanbahan kering, (6) bebas dari garam-garam, dekstrosa dan pengisiyang lain, (7) bersifat non higroskopis dengan stabilitas dalam penyimpanan yang baik, (8) serta dapat menghasilkan produk dengan kualitas yang terstandarisasi. 

Penggunaan oleoresin siap pakai mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan penggunaan rempah-rempah secara tradisional, terutama untuk  penggunaannya dalam skala industri. Keuntungan-keuntungan tersebut antara lain: 
(1) bahan dapat distandardisasi dengan tepat, terutama flavor dan warnanya,sehingga kualitas produk akhir dapat terkontrol,  (2) bahan lebih homogen dan lebih mudah ditangani, (3) bahan bebas enzim lipase, bakteri, kotoran atau bahan asing,dan (4) bahan mudah didispersikan secara merata ke dalam bahan pangan. 

Adanya keuntungan-keuntungan di atas tidak menunjukkan bahwa penggunaan oleoresin sebagai bahan penyedap makanan selalu lebih baik untuk segala keperluan dibanding dengan penggunaan rempah-rempah secara tradisional. Pada proses pembuatan makanan dan minuman yang menggunakan suhu tinggi, penggunaan bahan rempah asalnya sering lebih menguntungkan karena flavor tidak mudah hilang atau menguap selama pengolahan.Penggunaan rempah-rempah dalam bentuk bahan asal, meskipun dalam bentuk halus, masih dapat menimbulkan bintik-bintik (bercak) pada produk makanan dan minuman yang dibuat. Pada beberapa jenis makanan tertentu, seperti gulai dan sambal, adanya bintik-bintik khas dari bahan rempah justru dikehendaki agar makanan terlihat lebih menarik.

Contoh lain misalnya adanya sepotong jahe didalam pepes ikan atau selembar daun salam di dalam sayur justru dapat membuatkedua jenis makanan tersebut tampak lebih menarik dan menimbulkan selera. Tetapi pada jenis-jenis produk makanan dan minuman seperti salad, saus, sup, makanan bayi dan beberapa jenis soft drink, adanya bintik-bintik (bercak) dihindari agamakanan tidak dianggap tercampur kotoran (impurities) (Staniforth, 1973).Terlepas dari masalah penampakan fisik yang diinginkan pada tiap-tiap produk makanan atau minuman, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwauntuk mendapatkan tingkat flavor yang sama, penggunaan oleoresin atau bentuk- bentuk olahannya ternyata lebih menghemat biaya dibanding dengan penggunaanrempah-rempah dalam bentuk asal karena bahan baku rempah yang diperlukan lebihsedikit, khususnya bila diproduksi dan digunakan dalam skala industry.
(Arif Widianto, A.Md)






Kamis, 21 Juni 2012

Teknologi Penyiapan Simplisia Terstandar Tanaman Obat

Panen merupakan salah satu  rangkaian tahapan dalam proses budidaya tanaman obat. Waktu, cara pemanenan dan penanganan bahan setelah panen merupakan periode kritis yang sangat menen-tukan kualitas dan kuantitas hasil tanaman. Oleh karena itu waktu, cara panen dan penanganan tanaman yang tepat dan benar merupakan faktor penentu  kua-litas dan kuantitas.  Setiap jenis tanaman memiliki waktu dan  cara panen yang berbeda.  Tanaman yang dipanen buahnya memiliki waktu dan cara panen yang berbeda dengan tanaman yang dipanen berupa biji, rimpang, daun, kulit dan batang. Begitu juga tanaman yang mengalami stres lingkungan akan memiliki waktu panen yang ber-beda meskipun jenis tanamannya sama.  Berikut ini diuraikan saat panen yang tepat untuk beberapa jenis tanaman obat. Biji. Panen tidak bisa dilakukan secara serentak karena perbedaan waktu pematangan dari buah atau polong yang berbeda. Pemanenan biji di-lakukan pada saat biji telah masak fisiologis. Fase ini ditandai dengan sudah maksimalnya pertumbuhan buah atau polong dan biji yang di dalamnya telah terbentuk dengan sempurna. Kulit buah atau polong mengalami perubahan warna misalnya kulit polong yang semula warna hijau kini berubah menjadi agak kekuningan dan mulai mengering. Pemanenan biji pada tanaman se-musim yang sifatnya determinate dilakukan secara serentak pada suatu luasan tertentu. Pemanenan dilaku-kan setelah 60% kulit polong atau kulit biji sudah mulai mongering. Hal ini berbeda dengan tanaman se-musim indeterminate dan tahunan, yang umumnya dipanen secara ber-kala berdasarkan pemasakan dari biji/polong. 
Buah. Buah harus dipanen setelah masak fisiologis dengan cara me-metik.  Pemanenan sebelum masak fisiologis akan menghasilkan buah dengan kualitas yang rendah dan kuantitasnya berkurang.  Buah yang dipanen pada saat masih muda, seperti  buah  mengkudu, jeruk nipis, jambu biji dan buah ceplukan akan memiliki rasa yang tidak enak dan aromanya kurang sedap. Begitu pula halnya dengan pemanenan yang terlambat akan menyebabkan pe-nurunan kualitas karena akan terjadi perombakan bahan aktif yang ter-dapat di dalamnya menjadi zat lain.  Selain itu tekstur buah menjadi lembek dan buah menjadi lebih cepat busuk.
Daun. Pemanenan daun dilakukan pada saat tanaman telah tumbuh maksimal dan sudah memasuki periode matang fisiologis dan dilakukan dengan memangkas tanaman.  Pemangkasan dilakukan dengan menggunakan pisau yang bersih atau gunting stek. Pemanenan yang terlalu cepat  menyebabkan hasil produksi yang diperoleh rendah dan kandungan bahan bahan aktifnya juga rendah, seperti tanaman jati belanda dapat dipanen pada umur 1 - 1,5 tahun, jambu biji pada umur 6 - 7 bulan, cincau 3 - 4 bulan dan lidah buaya pada umur 12 - 18 bulan setelah tanam. Demikian juga dengan pe-manenan yang terlambat menyebab-kan daun mengalami penuaan (se-nescence) sehingga mutunya rendah karena bahan aktifnya sudah ter-degradasi. Pada beberapa tanaman pemanenan yang terlambat akan mempersulit proses panen. 
Rimpang. Untuk jenis rimpang waktu pe-manenan bervariasi tergantung peng-gunaan.  Tetapi  pada umumnya pe-manenan dilakukan pada saat tanam-an berumur 8 - 10 bulan.  Seperti rimpang jahe, untuk  kebutuhan eks-por dalam bentuk segar jahe dipanen pada umur 8 - 9 bulan setelah tanam, sedangkan untuk bibit 10 - 12 bulan.  Selanjutnya untuk keperluan pem-buatan jahe asinan, jahe awetan dan permen dipanen pada umur 4 - 6 bulan karena pada umur tersebut serat dan pati belum terlalu tinggi. Sebagai bahan obat, rimpang di-panen setelah tua yaitu umur 9 - 12 bulan setelah tanam. Untuk temu-lawak pemanenan rimpang dilaku-kan setelah tanaman berumur 10 - 12 bulan. Temulawak yang dipanen pada umur tersebut menghasilkan kadar minyak atsiri dan kurkumin yang tinggi. Penanaman rimpang dilakukan pada saat awal musim hujan dan dipanen pada pertengahan musim kemarau. Saat panen yang tepat ditandai dengan mulai menge-ringnya bagian tanaman yang berada di atas permukaan tanah (daun dan batang semu), misalnya kunyit, temulawak, jahe, dan kencur.
Bunga. Bunga digunakan dalam industri farmasi dan kosmetik dalam bentuk segar maupun kering.  Bunga yang digunakan dalam bentuk segar, pemanenan dilakukan pada saat bunga kuncup atau setelah per-tumbuhannya maksimal. Berbeda  dengan bunga yang digunakan dalam bentuk kering, pemanenan dilakukan pada saat bunga sedang mekar.  Seperti bunga piretrum, bunga yang dipanen dalam keadaan masih kuncup  menghasilkan kadar piretrin yang lebih tinggi dibandingkan dengan bunga yang sudah mekar.
Kayu. Pemanenan kayu dilakukan setelah pada kayu terbentuk senyawa metabolit sekunder secara maksimal.  Umur panen tanaman berbeda-beda tergantung jenis tanaman dan ke-cepatan pembentukan metabolit sekundernya. Tanaman secang baru dapat dipanen setelah berumur 4 sampai 5 tahun, karena apabila dipanen terlalu muda kandungan zat aktifnya seperti tanin dan sappan masih relatif sedikit.
Herba. Pada beberapa tanaman semusim, waktu panen yang tepat adalah pada saat pertumbuhan vegetatif tanaman sudah maksimal dan akan memasuki fase generatif atau dengan kata lain pemanenan dilakukan sebelum ta-naman berbunga. Pemanenan yang dilakukan terlalu awal mengakibat-kan produksi tanaman yang kita dapatkan rendah dan kandungan bahan aktifnya juga rendah.  Sedang-kan jika pemanenan terlambat akan menghasilkan mutu rendah karena jumlah daun berkurang, dan batang tanaman sudah berkayu.  Contohnya tanaman sambiloto sebaiknya di-panen pada umur 3 - 4 bulan, pegagan  pada umur 2 - 3 bulan setelah tanam, meniran pada umur kurang lebih 3,5 bulan atau sebelum berbunga dan tanaman ceplukan dipanen setelah umur 1 - 1,5 bulan atau segera setelah timbul kuncup bunga, terbentuk.
Cara Panen
Pada waktu panen peralatan dan tempat yang digunakan harus bersih dan bebas dari cemaran dan dalam keadaan kering. Alat yang diguna-kan dipilih dengan tepat untuk mengurangi terbawanya bahan atau tanah yang tidak diperlukan.  Seperti rimpang, alat untuk panen dapat menggunakan garpu atau cangkul.  Bahan yang rusak atau busuk harus segera dibuang atau dipisahkan.  Penempatan dalam wadah (keran-jang, kantong, karung dan lain-lain) tidak boleh terlalu penuh sehingga bahan tidak menumpuk dan tidak rusak. Selanjutnya dalam waktu pengangkutan diusahakan supaya bahan tidak terkena panas yang berlebihan, karena dapat menyebab-kan terjadinya proses fermentasi/ busuk.  Bahan juga harus dijaga dari gang-guan hama (hama gudang, tikus dan binatang peliharaan).
Penanganan Pasca Panen
Pasca panen merupakan kelanjut-an dari proses panen terhadap tanaman budidaya atau hasil dari penambangan alam yang fungsinya antara lain untuk membuat bahan hasil panen tidak mudah rusak dan memiliki kualitas yang baik serta mudah disimpan untuk diproses selanjutnya.  Untuk memulai proses pasca panen perlu diperhatikan cara dan tenggang waktu pengumpulan bahan tanaman yang ideal setelah dilakukan proses panen tanaman tersebut.  Selama proses pasca panen sangat penting diperhatikan keber-sihan dari alat-alat dan bahan yang digunakan, juga bagi pelaksananya perlu memperhatikan perlengkapan seperti masker dan sarung tangan.  Tujuan dari pasca panen ini untuk menghasilkan simplisia tanaman obat yang bermutu, efek terapinya tinggi  sehingga memiliki nilai jual yang tinggi. Secara umum faktor-faktor dalam penanganan pasca panen yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
Penyortiran (segar)
Penyortiran segar dilakukan setelah selesai panen dengan tujuan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing, bahan yang tua dengan yang muda atau bahan yang ukurannya lebih besar atau lebih kecil.  Bahan nabati yang baik memiliki kandungan campuran bahan organik asing tidak lebih dari 2%. Proses penyortiran pertama bertujuan untuk memisahkan bahan yang busuk atau bahan yang muda dan yang tua serta untuk mengurangi jumlah pengotor yang ikut terbawa dalam bahan.
Pencucian
Pencucian bertujuan menghilang-kan kotoran-kotoran dan mengurangi mikroba-mikroba yang melekat pada bahan. Pencucian harus segera di-lakukan setelah panen karena dapat mempengaruhi mutu bahan. Pen-cucian menggunakan air bersih seperti air dari mata air, sumur atau  PAM. Penggunaan air kotor menye-babkan jumlah mikroba pada bahan tidak akan berkurang bahkan akan bertambah.  Pada saat pencucian per-hatikan air cucian dan air bilasan-nya, jika masih terlihat kotor ulangi pencucian/pembilasan sekali atau dua kali lagi. Perlu diperhatikan bahwa pencucian harus dilakukan dalam waktu yang sesingkat mung-kin untuk menghindari larut dan terbuangnya zat yang terkandung dalam bahan. Pencucian bahan dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain :
a. Perendaman bertingkat
Perendamana biasanya dilakukan pada bahan yang tidak banyak mengandung kotoran seperti daun, bunga, buah dll.  Proses perendaman  dilakukan beberapa kali pada wadah dan air yang berbeda, pada rendaman pertama air cuciannya mengandung kotoran paling banyak.  Saat perendaman kotoran-kotoran yang melekat kuat pada bahan dapat dihilangkan langsung dengan tangan.  Metoda ini akan menghemat peng-gunaan air, namun sangat mudah melarutkan zat-zat yang terkandung dalam bahan.
b. Penyemprotan
Penyemprotan biasanya dilakukan pada bahan yang kotorannya banyak melekat pada bahan seperti rimpang, akar, umbi dan lain-lain.  Proses penyemprotan dilakukan de-ngan menggunakan air yang ber-tekanan tinggi. Untuk lebih me-nyakinkan kebersihan bahan, ko-toran yang melekat kuat pada bahan dapat dihilangkan langsung dengan tangan. Proses ini biasanya meng-gunakan air yang cukup banyak, namun dapat mengurangi resiko hilang/larutnya kandungan dalam bahan.
c. Penyikatan (manual maupun oto-matis)
Pencucian dengan menyikat dapat dilakukan terhadap jenis bahan yang keras/tidak lunak dan kotoran-nya melekat sangat kuat.  Pencucian ini memakai alat bantu sikat yang di- gunakan bentuknya bisa bermacam-macam, dalam hal ini perlu diper-hatikan kebersihan dari sikat yang digunakan. Penyikatan dilakukan terhadap bahan secara perlahan dan teratur agar tidak merusak bahannya.  Pem-bilasan dilakukan pada bahan yang sudah disikat. Metode pencuci-an ini dapat menghasilkan bahan yang lebih bersih dibandingkan de-ngan metode pencucian lainnya, namun meningkatkan resiko kerusa-kan bahan, sehingga merangsang tumbuhnya bakteri atau mikro-organisme.
Penirisan/pengeringan
Setelah pencucian, bahan lang-sung ditiriskan di rak-rak pengering. Khusus untuk bahan rimpang pen-jemuran dilakukan  selama 4 - 6 hari. Selesai pengeringan dilakukan kem-bali penyortiran apabila bahan lang-sung digunakan dalam bentuk segar sesuai dengan permintaan. Contoh-nya untuk rimpang jahe, perlu dilakukan penyortiran sesuai standar perdagangan, karena mutu bahan menentukan harga jual. Berdasarkan standar perdagangan, mutu rimpang jahe segar dikategorikan sebagai berikut :
  • Mutu I : bobot 250 g/rimpang, kulit tidak terkelupas, tidak me-ngandung benda asing dan tidak berjamur.
  • Mutu II : bobot 150 - 249 g/rim-pang, kulit tidak terkelupas, tidak mengandung benda asing dan tidak berjamur.
  • Mutu III : bobot sesuai hasil analisis, kulit yang terkelupas maksimum 10%, benda asing maksimum 3%, kapang mak-simum 10%.
Untuk ekspor jahe dalam bentuk asinan jahe, dipanen pada  umur 3 - 4 bulan, karena pada umur tersebut serat dan pati jahe masih sedikit.  Mutu jahe yang diinginkan adalah bobot 60 - 80 g/rimpang. Selesai penyortiran bahan langsung dikemas dengan menggunakan jala plastik atau sesuai dengan permintaan.  Di samping dijual dalam bentuk segar, rimpang juga dapat dijual dalam bentuk kering yaitu simplisia yang dikeringkan.
Perajangan
Perajangan pada bahan dilakukan untuk mempermudah proses selanjutnya seperti pengeringan, pengemasan, penyulingan minyak atsiri dan penyimpanan.  Perajangan biasanya hanya dilakukan pada bahan yang ukurannya agak besar dan tidak lunak seperti akar, rim-pang, batang, buah dan lain-lain.  Ukuran perajangan tergantung dari bahan yang digunakan dan ber-pengaruh terhadap kualitas simplisia yang dihasilkan. Perajangan terlalu tipis dapat mengurangi zat aktif  yang terkandung dalam bahan.  Sedangkan jika terlalu tebal, maka pengurangan kadar air dalam bahan agak sulit dan memerlukan waktu yang lama dalam penjemuran  dan kemungkinan besar bahan mudah ditumbuhi oleh jamur.
Ketebalan perajangan untuk rimpang temulawak adalah sebesar 7 - 8 mm, jahe, kunyit dan kencur 3 - 5 mm.  Perajangan bahan dapat dilakukan secara manual dengan pisau yang tajam dan terbuat dari steinlees ataupun dengan mesin pemotong/ perajang.  Bentuk irisan split atau slice tergantung tujuan pemakaian.  Untuk tujuan mendapatkan minyak atsiri yang tinggi bentuk irisan sebaiknya adalah membujur (split) dan jika ingin bahan lebih cepat kering bentuk irisan sebaiknya me-lintang (slice).
Pengeringan
Pengeringan adalah suatu cara pengawetan atau pengolahan pada bahan dengan cara mengurangi kadar air, sehingga proses pem-busukan dapat terhambat.  Dengan demikian dapat dihasilkan simplisia terstandar, tidak mudah rusak dan tahan disimpan dalam waktu yang lama Dalam proses ini, kadar air dan reaksi-reaksi zat aktif dalam bahan akan berkurang, sehingga suhu dan waktu pengeringan perlu diperhati-kan.  Suhu pengeringan tergantung pada jenis bahan yang dikeringkan.  Pada umumnya suhu pengeringan  adalah antara 40 - 600C dan hasil yang baik dari proses pengeringan adalah simplisia yang mengandung kadar air 10%.  Demikian pula de-ngan waktu pengeringan juga ber-variasi, tergantung pada jenis bahan yang dikeringkan seperti rimpang, daun, kayu ataupun bunga.  Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pro-ses pengeringan adalah kebersihan (khususnya pengeringan mengguna-kan sinar matahari), kelembaban udara, aliran udara dan tebal bahan (tidak saling menumpuk). Penge-ringan bahan dapat dilakukan secara tradisional dengan menggunakan sinar matahari ataupun secara mo-dern dengan menggunakan alat pe-ngering seperti oven, rak pengering, blower ataupun dengan fresh dryer.
Pengeringan hasil rajangan dari temu-temuan dapat dilakukan de-ngan menggunakan sinar matahari, oven, blower dan fresh dryer pada suhu 30 - 500C.  Pengeringan pada suhu terlalu tinggi dapat merusak komponen aktif, sehingga mutunya dapat menurun. Untuk irisan rim-pang jahe dapat dikeringkan meng-gunakan alat pengering energi surya, dimana  suhu pengering dalam ruang pengering berkisar antara 36 - 450C dengan tingkat kelembaban 32,8 - 53,3% menghasilkan kadar minyak atsiri lebih tinggi dibandingkan dengan pengeringan matahari lang-sung maupun oven.  Untuk irisan temulawak yang dikeringkan dengan sinar matahari langsung, sebelum dikeringkan terlebih dulu irisan rimpang direndam dalam larutan asam sitrat 3% selama 3 jam. Selesai peren-aman irisan dicuci kembali sampai bersih, ditiriskan kemudian  dijemur dipanas matahari. Tujuan dari perendaman adalah untuk mencegah terjadinya degradasi kur-kuminoid pada simplisia pada saat penjemuran juga mencegah peng-uapan minyak atsiri yang berlebihan. Dari hasil analisis diperoleh kadar minyak atsirinya 13,18% dan kur-kumin 1,89%. Di samping meng-gunakan sinar matahari langsung, penjemuran juga dapat dilakukan dengan menggunakan blower pada suhu 40 - 500C.  Kelebihan dari alat ini adalah waktu  penjemuran lebih singkat yaitu sekitar 8 jam, di-bandingkan dengan sinar matahari membutuhkan waktu lebih dari 1 minggu. Pelain kedua jenis pengeri-ng tersebut juga terdapat alat pengering fresh dryer, dimana suhunya hampir sama dengan suhu ruang, tempat tertutup dan lebih higienis. Kelemahan dari alat ter-sebut waktu pengeringan selama 3 hari. Untuk daun  atau herba, penge-ringan dapat dilakukan dengan me-nggunakan sinar matahari di dalam tampah yang ditutup dengan kain hitam, menggunakan alat pengering fresh dryer atau cukup dikering-anginkan saja.
Pengeringan dapat menyebabkan perubahan-perubahan hidrolisa enzi-matis, pencokelatan, fermentasi dan oksidasi.  Ciri-ciri waktu pengering-an sudah berakhir apabila daun atau-pun temu-temuan sudah dapat di-patahkan dengan mudah. Pada umumnya bahan (simplisia) yang sudah kering memiliki kadar air ± 8 - 10%.  Dengan jumlah kadar air tersebut kerusakan bahan dapat ditekan baik dalam pengolahan mau-pun waktu penyimpanan.
Penyortiran (kering).
Penyortiran dilakukan bertujuan untuk memisahkan benda-benda asing yang terdapat pada simplisia, misalnya akar-akar, pasir, kotoran unggas atau benda asing lainnya.  Proses penyortiran merupakan tahap akhir dari pembuatan simplisia kering sebelum dilakukan pengemasan, penyimpanan atau pengolahan lebih lanjut. Setelah penyortiran simplisia ditimbang untuk mengetahui rendemen hasil dari proses pasca panen yang dilakukan.
Pengemasan
Pengemasan dapat dilakukan terhadap simplisia yang sudah di-keringkan.  Jenis kemasan yang di-gunakan dapat berupa plastik, kertas maupun karung goni. Persyaratan jenis kemasan yaitu dapat menjamin mutu produk yang dikemas, mudah dipakai, tidak mempersulit pena-nganan, dapat melindungi isi pada waktu pengangkutan, tidak beracun dan tidak bereaksi dengan isi dan kalau boleh mempunyai bentuk dan rupa yang menarik.
Berikan label yang jelas pada tiap kemasan tersebut yang isinya menuliskan ; nama bahan, bagian dari tanaman bahan yang digunakan, tanggal pengemasan, nomor/kode produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih, metode pe-nyimpanan.
Penyimpanan
Penyimpanan simplisia dapat di-lakukan  di ruang biasa (suhu kamar) ataupun di ruang ber AC. Ruang tempat penyimpanan harus bersih, udaranya cukup kering dan ber-ventilasi.  Ventilasi harus cukup baik karena hama menyukai udara yang lembab dan panas. Perlakuan sim-plisia dengan iradiasi sinar gamma dosis 10 kGy dapat menurunkan jumlah patogen yang dapat meng-kontaminasi simplisia tanaman obat (Berlinda dkk, 1998). Dosis ini tidak merubah kadar air dan kadar minyak atsiri simplisia selama penyimpanan 3 - 6 bulan.  Jadi sebelum disimpan pokok utama yang harus diperhati-kan adalah cara penanganan yang tepat dan higienes. Hal-hal yang perlu diperhatikan mengenai tempat penyimpanan simplisia adalah :
  •  Gudang harus terpisah dari tem-pat penyimpanan bahan lainnya ataupun penyimpanan alat dan dipelihara dengan baik.
  •  Ventilasi udara cukup baik dan bebas dari kebocoran atau ke-mungkinan masuk air hujan.
  • Suhu gudang tidak melebihi 300C.
  • Kelembabab udara sebaiknya di-usahakan serendah mungkin (650 C) untuk mencegah terjadinya penyerapan air. Kelembaban udara yang tinggi dapat memacu pertumbuhan mikroorganisme se-hingga menurunkan mutu bahan baik dalam bentuk segar maupun kering.
  • Masuknya sinar matahari lang-sung menyinari simplisia harus dicegah.
  •  Masuknya hewan, baik serangga maupun tikus yang sering me-makan simplisia yang disimpan harus dicegah.
    (http://balittro.litbang.deptan.go.id)

Selasa, 12 Juni 2012

jahe merah : kenapa kalah "bersaing" dengan jahe emprit ?

Pengamatan dan pengalaman langsung saya di lapangan menunjukkan bahwa judul postingan saya sedang terjadi sekarang dengan sangat kentara. mengapa ? inilah argumentasi menurut hemat saya, jahe emprit dipergunakan mayoritas untuk produksi makanan dan minuman sedangkan jahe merah adalah bahan baku untuk obat-obatan dan jamu-jamuan, secara kuantitas tentu kebutuhan akan produk makanan dan minuman jauh lebih tinggi daripada kebutuhan terhadap obat (biofarmasi).

Disamping itu, panen raya jahe merah seperti sekarang ini telah menciptakan suatu bottle neck distribusi jahe dari supplier (petani) ke industri pengolahan oleh karena kebutuhan jahe merah di dalam negeri jauh lebih kecil daripada supply yang ditawarkan. Nah, inilah penyebab jatuhnya harga jahe merah ke level terrndah.

Terus bagaimana nasib petani jahe merah ? dalam kondisi seperti ini, sebagian petani jahe merah berpikir untuk beralih dan tidak lagi menanam jahe merah, sebagian lagi memilih menanam tetapi dengan jumlah yang relatif sedikit, dan sebagian lagi justru beralih menanam jahe emprit.

Bagaimana kalau suatu saat jahe emprit yang banjir di pasar sementara jahe merah  mulai langka ? lazimnya dalam dunia agrobis selama ini, harga jahe emprit akan menurun sementara jahe merah akan naik lagi,  begitu...begitu.....seterusnya bagaikan lingkaran yang tidak berujung pangkal. Akan tetapi seperti yang saya uraikan diawal tulisan ini, tentu untuk membuat jenuh pasar jahe emprit jauh lebih susah daripada pasar jahe merah karena memang pangsa pasar jahe emprit jauh lebih besar daripada jahe merah.

Ekspor adalah salah satu cara untuk menyerap produksi jahe merah berlebih di pasar lokal, akan tetapi sudah adakah atau banyakkah eksportir yang bergerak dibidang ini ? terus terang saya tidak tahu...Segmen pasar antara jahe merah dan jahe emprit memang berbeda dan ini perlu disadari oleh para petani dan pedagang jahe.

Pembaca yang budiman tentu juga mempunyai pendapat tersendiri mengenai apa yang saya ulas sedikit diatas, marilah di-share sebagai bahan diskusi kita.

salam agro...........
   

Minggu, 10 Juni 2012

Penawaran Kerjasama : Pemasaran Jahe Merah Kering

hallo semua, cukup lama saya gak post di blog ini, bukan karena apa-apa tetapi kesibukan membuat jadi lupa punya blog yang saya sayangi ini (hehhehe...).
Setelah lama mengamati peluang usaha dan pasar yang berkaitan dengan jahe merah, akhirnya saya menyimpulkan bahwa prospek pasar jahe merah kering jauh lebih menguntungkan bagi petani di Mamuju dari pada harus menjual dalam bentuk segar. Jahe segar sangat dekat dengan kata-kata busuk, rusak, susut, dipermainkan makelar, rugi dll (wah, kok gitu ya....? ), sedangkan jahe kering memang memerlukan proses lanjutan yang cukup menyita waktu, tenaga, dan biaya akan tetapi hasilnya sangat bagus, yah minimal kita terbebas dari rasa panik barang harus cepat laku.
Lewat blog ini, saya mengundang siapa pun yang serius yang memiliki akses pasar baik domestik maupun ekspor untuk memasarkan jahe merah rajang kering, dan kami siap untuk men-supply sesuai spesifikasi yang diminta...ini memang penawaran bisnis, bukan sekedar tuliasan post and share.

kalau ada yang berminat, hubungi saya di 082131155306, sms juga boleh....saya tunggu siapa cepat dan cocok dia yang dapat peluang ini.......prinsip dasarnya adalah kerjasama yang saling menguntungkan diantara kedua belah pihak....terimakasih