hallo semua, cukup lama saya gak post di blog ini, bukan karena apa-apa tetapi kesibukan membuat jadi lupa punya blog yang saya sayangi ini (hehhehe...).
Setelah lama mengamati peluang usaha dan pasar yang berkaitan dengan jahe merah, akhirnya saya menyimpulkan bahwa prospek pasar jahe merah kering jauh lebih menguntungkan bagi petani di Mamuju dari pada harus menjual dalam bentuk segar. Jahe segar sangat dekat dengan kata-kata busuk, rusak, susut, dipermainkan makelar, rugi dll (wah, kok gitu ya....? ), sedangkan jahe kering memang memerlukan proses lanjutan yang cukup menyita waktu, tenaga, dan biaya akan tetapi hasilnya sangat bagus, yah minimal kita terbebas dari rasa panik barang harus cepat laku.
Lewat blog ini, saya mengundang siapa pun yang serius yang memiliki akses pasar baik domestik maupun ekspor untuk memasarkan jahe merah rajang kering, dan kami siap untuk men-supply sesuai spesifikasi yang diminta...ini memang penawaran bisnis, bukan sekedar tuliasan post and share.
kalau ada yang berminat, hubungi saya di 082131155306, sms juga boleh....saya tunggu siapa cepat dan cocok dia yang dapat peluang ini.......prinsip dasarnya adalah kerjasama yang saling menguntungkan diantara kedua belah pihak....terimakasih
sebuah blog yang tercipta dari sebuah minat terhadap komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Contact : nyoman suadnyana phone : 081341500709, email : suadnyana@gmail.com
Translate
Minggu, 10 Juni 2012
Senin, 28 Mei 2012
Minyak Atsiri : Sebuah Komoditas Global
Selain jahe, masih banyak komoditas lain yang menjadi penghasil minyak atsiri, berikut adalah artikel yang saya copas dari http://minyakatsiriindonesia.wordpress.com, artikel ini bagus banget sebagai pengetahuan terutama bagi pelaku usaha agrobis.
Semoga bermanfaat
Volume perdagangan minyak atsiri dunia
diperkirakan bernilai sekitar USD4 milliar pada tahun 2007. Indonesia
adalah salah satu pengekspor utama minyak atsiri dunia dengan nilai
ekspor minyak atsiri dan turunannya: lebih dari USD120 juta pada tahun
2007. Di antara sekitar 3 ratus jenis minyak atsiri, terdapat puluhan
jenis minyak atsiri yang sudah, sedang dan berpotensi dikembangkan di
Indonesia. Makalah ini, selain memaparkan perkiraan volume output dunia
dan Indonesia, juga membahas karakteristik singkat industri pengguna
minyak atsiri secara singkat.
1. Minyak atsiri Indonesia dengan potensi pemakaian lebih dari 1000 ton per tahun
1.1. Minyak daun dan gagang cengkeh (clove leaf oil & clove stem oil)
Perkiraan pemakaian
dunia saat ini sekitar 3500 ton/tahun, Indonesia adalah produsen utama,
memproduksi sekitar 2500 ton pada tahun 2007. Pengguna utamanya adalah
industri kimia aromatik, flavor & fragrance dan farmasi.
1.2. Minyak sereh wangi (citronella oil)
Perkiraan pemakaian
dunia saat ini lebih dari 2000 ton/tahun, Indonesia adalah produsen
nomor 3 dunia (setelah China & Vietnam) dengan produksi pada 2007
sekitar 300 ton. Kebutuhan dalam negeri China akhir-akhir ini meningkat
dan diperkirakan mencapai 800 ton per tahun sehingga posisinya
sewaktu-waktu bisa beralih menjadi netimporter. Pengguna produk ini
sangat beragam dan berkembang antara lain industri flavor &
fragrance, detergent, obat nyamuk dan kimia aromatik
1.3. Minyak nilam (patchouli oil)
Perkiraan
pemakaian dunia pada tahun 2006 sekitar 1500 ton/tahun dan Indonesia
adalah produsen utama. India & China sampai sejauh ini belum mampu
berproduksi lebih dari 100ton/tahun. Situasi tahun 2007-2008 yang tidak
kondusif berakibat turunnya produksi dan pemakaian sampai lebih dari
40%. Pemakai utamanya adalah industri fragrance
1.4. Minyak terpentin (turpentine Oil)
Indonesia adalah
produsen dengan output sekitar 10,000 ton per tahun (nomor dua setelah
China). Pemakai utamanya adalah industri kimia aromatik.
Pasar minyak-minyak
di atas relatif mudah diraih. Yang paling penting dalam meraih pasar
tersebut adalah penyediaan bahan baku yang berkelanjutan serta teknik
produksi yang efisien dan mutu minyak yang sesuai. Minyak atsiri lain
yang berpotensi pemakaian di atas 1000 ton per tahun adalah mint oil
(mentha arvensis) dan beberapa jenis citrus oil, menurut beberapa
penelitian bisa dikembangkan di Indonesia. Mint & Citrus oil
merupakan minyak atsiri dengan potensi pemakaian puluhan ribu ton per
tahun.
2. Minyak atsiri Indonesia dengan potensi pemakaian antara 100-1000 ton per tahun
2.1. Minyak Pala (nutmeg oil) dan minyak fuli (mace oil)
Perkiraan permintaan
dunia lebih dari 250 ton per tahun dan Indonesia adalah pemain utama
dengan volume ekspor lebih dari 200ton per tahun. Akhir-akhir ini output
menurun drastic karena hama yang menyerang tanaman pala di Sumatera.
2.2. Minyak Akar Wangi (vetiver oil)
Perkiraan permintaan
dunia lebih dari 200 ton per tahun. Pemain utama minyak akar wangi
adalah Haiti. India berproduksi cukup besar (puluhan ton per tahun),
namun permintaan dalam negerinya lebih besar daripada output. Indonesia
merupakan pemain penting dengan sentra produksi di Garut (output saat
ini diperkirakan berkisar antara 20-30 ton per tahun).
2.3. Minyak Kayu Putih (cajeput oil)
Perkiraan permintaan
dunia lebih dari 100 ton per tahun dengan pemakaian terkonsentrasi di
regional Asia Tenggara. Sedangkan di dunia, minyak eukaliptus lebih
banyak dipakai
3. Minyak atsiri Indonesia dengan potensi pemakaian kurang dari 100 ton per tahun
3.1. Minyak Cendana (sandalwood oil)
Perkiraan permintaan
dunia lebih dari 50 ton per tahun. Pemain utamanya adalah India.
Indonesia (sebelum Timor Timur merdeka) pernah menduduki peringkat 2.
Saat ini, Australia melakukan penaman santalum album besar-besaran dan
dalam beberapa tahun ke depan akan menjadi pemain utama dunia.
3.2. Minyak Kananga (Cananga Oil)
Minyak atsiri ini
hanya diproduksi di Indonesia dengan output sekitar 20 ton per tahun. Di
dunia pemakaian minyak kananga masih terbatas dibandingkan minyak ylang
ylang.
3.3. Minyak Massoi (Massoia Bark Oil)
Minyak atsiri ini
hanya diproduksi di Indonesia dengan output lebih dari 5 ton per tahun.
Minyak ini merupakan sumber natural lactone. Minyak Lada Hitam (Black
Pepper Oil) Minyak atsiri Indonesia dengan potensi pemakaian kurang dari
100ton per tahun.
3.4. Minyak Kemukus (Cubeb Oil)
Minyak atsiri ini
hanya diproduksi di Indonesia dengan output beberapa ton per tahun.
Kemukus adalah tanaman liar merambat yang bijinya juga dibutuhkan
sebagai bahan obat tradisional maupun bumbu masakan India.
3.5. Minyak Daun Jeruk Purut (Kaffir Lime Leaf Oil)
Minyak atsiri ini
hanya di produksi di Indonesia dengan output beberapa ton per tahun.
Pemakaian sementara ini hanya untuk fragrance, padahal potensi di flavor
cukup besar hanya saja minyak atsiri ini belum memiliki nomor FEMA.
Masih ada beberapa minyak atsiri
Indonesia lainnya seperti minyak lawang yang hanya dipakai di pasar
domestik untuk obat gosok dan mempunyai nilai ekonomi rendah, minyak
gurjun yang bisa berfungsi sebagai fixative namun pengadaan bahan
bakunya berkategori ilegal, minyak lada hitam (black pepper oil) yang
produsen utamanya adalah India (sebagian bahan baku impor dari
Indonesia) dan mereka beroperasi efisien dengan mengintegrasikan
produksi oleoresin dan oil. Selain itu juga banyak disebut di media
beberapa jenis minyak atsiri dari bahan baku bunga. Sejauh ini
produksinya masih sangat terbatas dan berskala kecil sekali dan belum
mencapai skala ekonomis untuk bersaing dengan produsen utama di India,
Mesir maupun Eropa Timur.
Pemasaran minyak atsiri tidak bisa
terlepas dari penggunaannya. Industri pengguna utama minyak atsiri
adalah industri flavor & fragrance, industri kimia aromatik,
industri farmasi, industri kosmetik (termasuk spa) dan toiletries
(termasuk detergent), industri pengendalian serangga/hama serta industri
makanan & minuman.
Hampir semua jenis minyak atsiri
digunakan untuk industri flavor & fragrance. Oleh karena itu, sektor
ini adalah pasar utama minyak atsiri. Pemain utama industri ini adalah
perusahaan multinasional dan sebagian besar juga sudah beroperasi di
Indonesia. Perkiraan penjualan mereka pada 2007 mencapai USD19.8 milyar
dan 69% dikuasai 10 perusahaan besar seperti terlihat pada diagram di
bawah (sumber: www.leffingwell.com).
Bagi perusahaan-perusahaan tersebut,
Indonesia menempati posisi yang strategis, baik sebagai sumber bahan
baku maupun sebagai pasar. Yang mereka harapkan dari pemasok minyak
atsiri terutama adalah kesinambungan pasokan, konsistensi kualitas dan
harga yang wajar.
Industri kedua yang masih berhubungan
dengan industri flavor & fragrance dan merupakan industri antara
adalah industri kimia aromatik. Beberapa minyak atsiri memiliki gugus
kimia aromatik yang bisa diisolasi dan direaksikan untuk mendapatkan
gugus kimia aromatik lain. Yang berkembang di Indonesia adalah industri
kimia aromatik turunan minyak cengkeh (eugenol dll) dan minyak sereh
wangi (citronellal dll). Sedangkan yang masih berpotensi untuk
dikembangkan adalah industri turunan minyak terpentin (alpha pinene,
beta pinene dll). Industri ini membutuhkan minyak atsiri berharga
ekonomis karena produk kimia aromatik turunannya masih memerlukan
beberapa tahap proses isolasi maupun reaksi lagi. Beberapa produk
seperti misalnya geraniol, bisa diproduksi dari sumber bahan baku lain
(bukan minyak atsiri) yang lebih ekonomis.
Industri farmasi dengan riset dan
pengembangan yang dinamis menyediakan peluang terhadap pemakaian minyak
atsiri maupun kimia aromatik turunan minyak atsiri. Industri lain yang
prospektif adalah industri spa, kosmetik, makanan-minuman dan
pengendalian serangga/hama. Meskipun pasar ini prospektif, kepastian
pasar perlu dicermati seksama. Prinsip membuat barang yang diminta
pembeli lebih tepat diterapkan daripada membuat barang untuk dijual.
Semoga bermanfaat
Minggu, 27 Mei 2012
Petani Jahe Mamuju Jangan Mau Jadi "Korban"
Hasil kontak-kontak dengan banyak relasi bisnis di Jawa, saya merasakan ada beberapa hal yang patut dicermati oleh para petani jahe di Mamuju, antara lain masuknya buyer-buyer dadakan yang ingin membeli jahe petani dengan sangat murah mumpung harga jahe segar sedang rendah-rendahnya yang dipicu oleh panen yang melimpah di Mamuju, Sulbar.
Baru- baru ini telah terjadi juga penipuan via telepon dengan modus seseorang yang mengaku buyer meminta petani di Mamuju untuk mensupply jahe dengan kuantitas puluhan ton, setelah dicabut dan barang dikirim, buyer bohongan inipun sudah tidak bisa dihubungi lagi, akhirnya si petani pun merugi dan terpaksa dijual setengah harga. Terus ada juga kejadian dimana jahe sudah dikirim ke Surabaya dan telah diterima buyer, akan tetapi pembayaran tak kunjung datang dan si buyer pun menghilang.
Memperhatikan kejadian-kejadian seperti diatas, petani di Mamuju harus lebih hati-hati menanggapi pembeli yang mau membeli jahe mereka, tips dibawah ini mungkin bisa dijadikan acuan :
(bersambung,,,,,,,,,,,)
Baru- baru ini telah terjadi juga penipuan via telepon dengan modus seseorang yang mengaku buyer meminta petani di Mamuju untuk mensupply jahe dengan kuantitas puluhan ton, setelah dicabut dan barang dikirim, buyer bohongan inipun sudah tidak bisa dihubungi lagi, akhirnya si petani pun merugi dan terpaksa dijual setengah harga. Terus ada juga kejadian dimana jahe sudah dikirim ke Surabaya dan telah diterima buyer, akan tetapi pembayaran tak kunjung datang dan si buyer pun menghilang.
Memperhatikan kejadian-kejadian seperti diatas, petani di Mamuju harus lebih hati-hati menanggapi pembeli yang mau membeli jahe mereka, tips dibawah ini mungkin bisa dijadikan acuan :
- Jangan bertransaksi bila anda tidak kenal face to face dengan si buyer, pastikan anda tahu alamat dan identitas si pembeli tersebut.
- Untuk transaksi yang pertama kali, jangan lepas barang bila belum ada pembayaran sama sekali, minimal ada DP 30 % lah.
- kalau terpaksa harus kirim barang duluan tanpa ada pembayaran, usahakan anda harus ikut dalam pengiriman barang tersebut, selalu monitor di mana anda diminta untuk menurunkan barang, catat identitas pengangkutan, bila perlu diam-diam ambil photo si buyer (pake kamera HP saja).
- Selalu waspada dengan kemungkinan kejahatan dan penipuan.
(bersambung,,,,,,,,,,,)
Selasa, 22 Mei 2012
Fenomena Jahe : Jahe Emprit, Jahe Gajah, dan jahe Merah
mengamati geliat bisnis jahe dalam kurang lebih dalam seminggu terakhir, terjadi fenomena dimana jahe merah dan jahe gajah hancur di pasaran sedangkan jahe emprit relatif "aman" di puncak klasemen. Ada apakah ? ada pemain agroproduct yan mengatakan bahwa sebenarnya terutama jahe merah belum beradaptasi dengan pasar, artinya mereka sebisa bisanya tidak memakai jahe merah untuk keperluan mereka sepanjang jahe emprit.
Jahe emprit lah yang sedang jadi primadona pasar, saya melihat justru begini, jahe merah lagi panen raya di Mamuju, dan jahe gajah juga panen raya di jawa, sedangkan jahe emprit tidak, luasan lahan yang ditanami jahe emprit tidak seluas jahe merah dan jahe gajah sehingga mengakibatkan supply jahe emprit di pasaran berkurang, nah...karena permintaan yang cenderung stabil maka jahe emprit di pasar menjadi langka...
Kalau melihat hasil laboratorium dan praktikum beberapa lembaga pertanian, saya melihat jahe merah, jahe gajah, dan jahe emprit memiliki keunggulan masing-masing sehingga tidak tepat bila ada yang mengatakan bahwa jahe emprit superior di pasaran. Saya amati pergerakan harga beberapa bulan terakhir sebenarnya harga jahe merah cukup berimbang dengan harga jahe emprit di pulau Jawa.
Kadar minyak atsiri dan oleoresin jahe merah sebenarnya relatif lebih tinggi dari pada jahe emprit, apalagi jika dibandingkan dengan jahe gajah, sehingga secara ekonomis kelayakan jahe merah masing sangat diperhitungkan di pasaran, tetapi masalahnya dalam market jahe, seperti halnya anthurium beberapa tahun yang lalu, terlalu banyak makelar terlibat sehingga akhirnya membingungkan petani dan end user. Sudah jamak dalam dunia bisnis, apabila real buyer lebih sedikit dari pada calo (makelar) maka harga akan kacau, karena calo alias makelar ini hanya berpikir keuntungan sesaat tanpa memilirkan kelanjutan bisnis secara makro.
Siapa Real Buyer jahe ? ya tentu para pengusaha yang bergerak dibidang perjahean, misalnya perusahaan obat tradisional, eksportir, home industry, pengolah jahe kering, industri jahe bubuk dll.
Siapa Calo (Makelar) Jahe ? siapa saja yang mau memanfaatkan celah pasar antara petani dan pengusaha, kehadirannya memang dibutuhkan tetapi dalam batas tertentu justru akan "menghancurkan" bisnis perjahean itu sendiri...
Yah, mungkin banyak yang tidak setuju atau ingin menambahkan postingan saya, silahkan post on comments !!!
Jahe emprit lah yang sedang jadi primadona pasar, saya melihat justru begini, jahe merah lagi panen raya di Mamuju, dan jahe gajah juga panen raya di jawa, sedangkan jahe emprit tidak, luasan lahan yang ditanami jahe emprit tidak seluas jahe merah dan jahe gajah sehingga mengakibatkan supply jahe emprit di pasaran berkurang, nah...karena permintaan yang cenderung stabil maka jahe emprit di pasar menjadi langka...
Kalau melihat hasil laboratorium dan praktikum beberapa lembaga pertanian, saya melihat jahe merah, jahe gajah, dan jahe emprit memiliki keunggulan masing-masing sehingga tidak tepat bila ada yang mengatakan bahwa jahe emprit superior di pasaran. Saya amati pergerakan harga beberapa bulan terakhir sebenarnya harga jahe merah cukup berimbang dengan harga jahe emprit di pulau Jawa.
Kadar minyak atsiri dan oleoresin jahe merah sebenarnya relatif lebih tinggi dari pada jahe emprit, apalagi jika dibandingkan dengan jahe gajah, sehingga secara ekonomis kelayakan jahe merah masing sangat diperhitungkan di pasaran, tetapi masalahnya dalam market jahe, seperti halnya anthurium beberapa tahun yang lalu, terlalu banyak makelar terlibat sehingga akhirnya membingungkan petani dan end user. Sudah jamak dalam dunia bisnis, apabila real buyer lebih sedikit dari pada calo (makelar) maka harga akan kacau, karena calo alias makelar ini hanya berpikir keuntungan sesaat tanpa memilirkan kelanjutan bisnis secara makro.
Siapa Real Buyer jahe ? ya tentu para pengusaha yang bergerak dibidang perjahean, misalnya perusahaan obat tradisional, eksportir, home industry, pengolah jahe kering, industri jahe bubuk dll.
Siapa Calo (Makelar) Jahe ? siapa saja yang mau memanfaatkan celah pasar antara petani dan pengusaha, kehadirannya memang dibutuhkan tetapi dalam batas tertentu justru akan "menghancurkan" bisnis perjahean itu sendiri...
Yah, mungkin banyak yang tidak setuju atau ingin menambahkan postingan saya, silahkan post on comments !!!
Minggu, 20 Mei 2012
Harga jahe Merah Segar Turun Drastis : Pembeli jahe kering membludak
Membaca judul postingan saya, mungkin banyak yang bertanya, maksudnya apa ? apa kaitannya antara jahe merah basah dengan kering ? kurang lebih begini penjelasannya, saat ni merupakan panen raya jahe merah di Mamuju, sehingga dapat dikatakan sudah memasuki kriteria over supply, banyak kontainer yang tiba di pelabuhan tanjung perak, surabaya memuat jahe merah segar dengan harga yang murah, mungkin sekitar Rp. 7000 / kg, para pemain jahe basah yang bermodal maupun tidak bermodal alias makelar tidak berani berspekulasi membeli jahe merah segar karena harga yang sangat fluktuatif dan cenderung turun terus, mengingat masa simpan jahe merah segar yang singkat, mereka tidak mau mengambil risiko kerugian yang besar, nah... akhirnya mereka berbondong-bondong mencari jahe merah kering karena otomatis harganya juga jauh lebih murah daripada harga normal, masa simpan jahe kering moisture 10% kebawah bisa sampai 1 tahun sehingga para pedagang memiliki waktu yang cukup panjang untuk menunggu timing yang tepat untuk melepas jahe kering mereka di saat harga tinggi. Mereka yang tetap membeli jahe merah rata-rata akan mengolah jahe mereka menjadi jahe kering terlebih dahulu. Sebenarnya inilah peluang pasar disaat harga hancur..
Para petani akhirnya kelimpungan, mau jahenya dikeringkan tentu perlu biaya tambahan sementara kebutuhan hidup sudah mendesak, akhirnya petani semakin terpojok dan banyak yang akhirnya menjual jahenya dengan harga rendah sekitar Rp. 6000 / kg. Saya melihat komoditas jahe merah nasibnya sama dengan jahe gajah, sedangkan jahe emprit cenderung stabil dan banyak dicari buyer. mengapa bisa begitu ? kemungkinan besar petani di jawa juga mayoritas menanam jahe gajah sedangkan yang menanam jahe emprit mungkin berkurang, kembali lagi ke hukum demand and supply....
Para petani akhirnya kelimpungan, mau jahenya dikeringkan tentu perlu biaya tambahan sementara kebutuhan hidup sudah mendesak, akhirnya petani semakin terpojok dan banyak yang akhirnya menjual jahenya dengan harga rendah sekitar Rp. 6000 / kg. Saya melihat komoditas jahe merah nasibnya sama dengan jahe gajah, sedangkan jahe emprit cenderung stabil dan banyak dicari buyer. mengapa bisa begitu ? kemungkinan besar petani di jawa juga mayoritas menanam jahe gajah sedangkan yang menanam jahe emprit mungkin berkurang, kembali lagi ke hukum demand and supply....
Selasa, 15 Mei 2012
Ingin Jahe Organik ? Carilah Di Mamuju, Sulbar
Gaya hidup back to nature (kembali ke alam) yang telah mendunia saat ini didasari oleh pemahaman bahwa manusia harus mengkonsumsi pangan yang sehat. hal ini telah meningkatkan permintaan terhadap produk rimpang organik , diantaranya jahe, untuk dikonsumsi secara langsung maupun dalam bentuk produk olahan.
Budidaya jahe organik adalah adalah suatu proses budidaya terpadu yang memanfaatkan bahan alami untuk meningkatkan produktivitas dan mutu rimpang jahe. Komponen budidaya organik antara lain ; pupuk organik, pupuk bio, rotasi tanaman, dan bio pestisida.
Para petani di Mamuju Sulbar dapat dipastikan tidak mengenal pupuk dan obat-obatan kimia dalam melakukan budidaya jahe merah mereka, para petani umumnya akan membuka lahan hutan produksi baru dan kemudian ditanami jahe merah. Bahkan hampir tidak ditemukan adanya lahan jahe yang pernah ditanami ulang dengan jahe oleh karena mereka berkeyakinan kalau lahan yang sama ditanami jahe lagi maka akan menurunkan produktivitas hasil panennya nanti.
Kesimpulan saya bahwa memang Mamuju memiliki agroklimat yang sangat cocok untuk budidaya jahe melebihi daerah-daerah lainnya sehingga tanpa manipulasi tanah apapun sudah dieproleh hasil yang luar biasa. Bagi para pecinta produk organik terutama produk jahe merah bisa datang ke Mamuju untuk membuktikan keorganikan produk jahe petani, bahkan bila perlu bisa dilakukan uji laboratorium untuk membuktikan bahwa dalam jahe merah produk petani Mamuju sama sekali tidak mengandung bahan- bahan kimia berbahaya didalamnya.
Saya optimis, keran ekspor jahe akan menjadi terbuka kedepannya oleh karena persyaratan komoditas jahe non kimia sudah terpenuhi dengan maksimal, sehingga para eksportir tidak usah khawatir akan menerima klaim atau komplain dari negara importir akibat kandungan kimia yang terdapat dalam produk jahe.
Mari datang ke Mamuju dan buktikan sendiri.........
Budidaya jahe organik adalah adalah suatu proses budidaya terpadu yang memanfaatkan bahan alami untuk meningkatkan produktivitas dan mutu rimpang jahe. Komponen budidaya organik antara lain ; pupuk organik, pupuk bio, rotasi tanaman, dan bio pestisida.
Para petani di Mamuju Sulbar dapat dipastikan tidak mengenal pupuk dan obat-obatan kimia dalam melakukan budidaya jahe merah mereka, para petani umumnya akan membuka lahan hutan produksi baru dan kemudian ditanami jahe merah. Bahkan hampir tidak ditemukan adanya lahan jahe yang pernah ditanami ulang dengan jahe oleh karena mereka berkeyakinan kalau lahan yang sama ditanami jahe lagi maka akan menurunkan produktivitas hasil panennya nanti.
Kesimpulan saya bahwa memang Mamuju memiliki agroklimat yang sangat cocok untuk budidaya jahe melebihi daerah-daerah lainnya sehingga tanpa manipulasi tanah apapun sudah dieproleh hasil yang luar biasa. Bagi para pecinta produk organik terutama produk jahe merah bisa datang ke Mamuju untuk membuktikan keorganikan produk jahe petani, bahkan bila perlu bisa dilakukan uji laboratorium untuk membuktikan bahwa dalam jahe merah produk petani Mamuju sama sekali tidak mengandung bahan- bahan kimia berbahaya didalamnya.
Saya optimis, keran ekspor jahe akan menjadi terbuka kedepannya oleh karena persyaratan komoditas jahe non kimia sudah terpenuhi dengan maksimal, sehingga para eksportir tidak usah khawatir akan menerima klaim atau komplain dari negara importir akibat kandungan kimia yang terdapat dalam produk jahe.
Mari datang ke Mamuju dan buktikan sendiri.........
alternatif Solusi : Pemasaran Komoditas Jahe merah Mamuju
Panen melimpah harga hancur petani stress.....hehe inilah kenyataan yang sering dihadapi oleh para petani di manapun termasuk di Mamuju. Saat ini banyak petani yang seharusnya sudah memanen jahe merahnya akan tetapi terhambat oleh minimnya pembeli yang masuk ke wilayah ini.
Sebenarnya pemerintah daerah sudah berusaha untuk mencari solusi bagaimana caranya agar jahe-jahe ini bisa terserap oleh pasar, misalnya pemerintah telah melakukan negosisasi dengan PT Sidomuncul, pemerintah telah berusaha mencari eksportir jahe, dll tapi setidaknya mungkin butuh waktu untuk merealisasikannya untuk menjadi kenyataan.
Terus bagaimana dengan panen kali ini ? petani rupanya masih wait and see, dan sambil berharap-harap mudah-mudahan pembeli itu bisa datang dalam waktu cepat, yah setidaknya sebelum bulan puasa tiba. Bagaimana seandainya tidak juga kunjung datang ? petani rupanya baru akan memikirkan alternatif solusinya sekira bulan Juli 2012 ini, mungkin saja mereka akan mengeringkan jahe-jahenya terlebih dahulu sehingga memiliki masa simpan yang panjang, diantara petani-petani itu mungkin saya adalah salah satunya (hehehe...)
Berdasarkan info dari relasi di Surabaya, memang saat ini produksi jahe lagi melimpah di pulau Jawa, terutama Jawa Barat yang lagi panen raya jahe, tentu saja ini menyebabkan over-supply di pasaran saat ini. Akan tetapi bagi saya justru masa-masa sulit seperti ini bisa dimanfaatkan dengan maksimal dengan cara fokus ke produksi jahe olahan, entah jahe kering atau jahe bubuk. Namun kendala rata-rata petani disini adalah kebutuhan akan fresh money dalam jangka waktu dekat yang tidak bisa terelakkan, apalagi sudah mendekati bulan puasa.
Dari beberapa obrolan dengan petani senasib, saya pahami bahwa mereka juga memutuskan tidak akan menjual jahenya dengan harga yang tidak wajar apalagi jauh dibawah ekspektasi mereka, "wah kalo jahe kita dibeli cuman Rp.5000 per kilo mendingan kita biarin saja teronggok di lahan" kata salah satu petani di Mamuju, Sulbar......
Semoga dan semoga solusinya ada demi kelangsungan usaha petani jahe di Mamuju....malah saya yakin suatu saat pembeli yang akan berebut komoditas jahe merah di Mamuju...hehehehe...
Sebenarnya pemerintah daerah sudah berusaha untuk mencari solusi bagaimana caranya agar jahe-jahe ini bisa terserap oleh pasar, misalnya pemerintah telah melakukan negosisasi dengan PT Sidomuncul, pemerintah telah berusaha mencari eksportir jahe, dll tapi setidaknya mungkin butuh waktu untuk merealisasikannya untuk menjadi kenyataan.
Terus bagaimana dengan panen kali ini ? petani rupanya masih wait and see, dan sambil berharap-harap mudah-mudahan pembeli itu bisa datang dalam waktu cepat, yah setidaknya sebelum bulan puasa tiba. Bagaimana seandainya tidak juga kunjung datang ? petani rupanya baru akan memikirkan alternatif solusinya sekira bulan Juli 2012 ini, mungkin saja mereka akan mengeringkan jahe-jahenya terlebih dahulu sehingga memiliki masa simpan yang panjang, diantara petani-petani itu mungkin saya adalah salah satunya (hehehe...)
Berdasarkan info dari relasi di Surabaya, memang saat ini produksi jahe lagi melimpah di pulau Jawa, terutama Jawa Barat yang lagi panen raya jahe, tentu saja ini menyebabkan over-supply di pasaran saat ini. Akan tetapi bagi saya justru masa-masa sulit seperti ini bisa dimanfaatkan dengan maksimal dengan cara fokus ke produksi jahe olahan, entah jahe kering atau jahe bubuk. Namun kendala rata-rata petani disini adalah kebutuhan akan fresh money dalam jangka waktu dekat yang tidak bisa terelakkan, apalagi sudah mendekati bulan puasa.
Dari beberapa obrolan dengan petani senasib, saya pahami bahwa mereka juga memutuskan tidak akan menjual jahenya dengan harga yang tidak wajar apalagi jauh dibawah ekspektasi mereka, "wah kalo jahe kita dibeli cuman Rp.5000 per kilo mendingan kita biarin saja teronggok di lahan" kata salah satu petani di Mamuju, Sulbar......
Semoga dan semoga solusinya ada demi kelangsungan usaha petani jahe di Mamuju....malah saya yakin suatu saat pembeli yang akan berebut komoditas jahe merah di Mamuju...hehehehe...
Langganan:
Postingan (Atom)