Banyak selentingan yang beredar diantara para penanam jahe bahwasanya jahe nantinya sudah tidak ada yang beli, hal ini diperkuat dengan fakta di lapangan banyak jahe yang sudah waktunya di panen akan tetapi belum dipanen oleh karena tidak adanya pembeli, wah kok bisa ?
Ya begitulah faktanya, kontradiktif dengan di tengah isu digalakannnya perkebunan jahe di Mamuju, sul-bar justru para petani saat ini sudah tidak memiliki saluran distribusi pemasaran jahe lagi. Adapun objek pengamatan saya terfokus hanya kepada petani jahe di lingkungan ala-ala dan salunangka, kec. simboro.
Sementara itu dari beberapa informasi yang saya peroleh, pembukaan lahan jahe di mamuju saat ini memang lagi "menjadi-jadinya" terutama di wilayah botteng dan sekitarnya, banyak para pemodal yang ber-investasi lahan diwilayah ini yang ujung-ujungnya juga akan menanam jahe. wah luar biasa....ditengah ketidakpastian pemasarannya ternyata jahe masih "hangat"bagi para pemodal untuk terjun ke dalam agrobisnis yang satu ini.
pertanyaannya adalah kemana hasil panen ini akan dibawa ? Semua berharap PT Sidomuncul akan bersedia menyerap produksi jahe petani di Mamuju ini, tapi itupun masih sebatas wacana sampai saat ini, dan seandainya pun memang dibeli oleh PT Sidomuncul, pertanyaan berikutnya adalah seberapa besarkah daya serapnya ? mungkinkah menyerap seluruh produksi petani yang mencapai ratusan ton per bulannya bahkan lebih ?.
Pemasaran sekarang menjadi begitu vitalnya kalau seandainya saluran distribusi pasar macet, maka dapat dipastikan komoditas jahe Mamuju akan mencapai titik antiklimaks, dan pada saatnya petani akan mulai meninggalkan jahe ke komoditas jangka pendek lainnya.
Bagi anda pelaku usaha di bidang perjahean, entah itu pedagang pengumpul, pedagang antar pulau, eksportir, pelaku industri pengolahan jahe dll kini saatnya anda mengalihkan supply bahan baku usaha anda ke Mamuju, buatlah skema kerjasama yang saling menguntungkan sehingga anda berhasil dan petani Mamuju pun sejahtera. Semoga..............
sebuah blog yang tercipta dari sebuah minat terhadap komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Contact : nyoman suadnyana phone : 081341500709, email : suadnyana@gmail.com
Translate
Minggu, 06 Mei 2012
Sabtu, 05 Mei 2012
Peluang Usaha Bisnis Minuman Jahe Merah
Peluang Usaha Bisnis Minuman Jahe Merah
Peluang usaha-oke.com
Usaha bisnis minuman adalah termasuk usaha modal kecil
yang lebih tahan terhadap gonjang ganjingnya kondisi perekonomian di
indonesia. Kelebbihan dari usaha minuman adalah modal yang dapat di
jangkau oleh kelas bawah dan keuntungannya lumayan besar. Jika usaha
minuman yang di jalankannya laku, maka dalam waktu singkat sudah bisa
balik modal.
Namun yang jarang kita temi adalah
minuman jahe merah. Peluang Usaha bisnis minuman jahe merah prospeknya
sangat menjanjikan. Apa sih manfaat jahe merah ? Jahe merah atau yang
biasa dikenal dengan nama latin Zingiberaceae Officinale Rose merupakan
salah satu jenis tanaman herbal yang dimanfaatkan masyarakat sebagai
ramuan obat tradisional.
Namun seiring dengan ketatnya persaingan
palaku usaha minuman maka inovasipun tida henti dilakukan sehingga saat
ini jahe merahpun dijadikan minuman yang sangat bermanfaat untuk
menghangatkan tubuh dan ternyata prospek bisnisnya mempunyai masa depan
yang cerah.
Yang menjadi ciri khas jahe merah adalah
rasanya yang cenderung lebih pedas daripada jahe biasa, sehingga
minuman jahe merah sangat bagus untuk menghangatkan tubuh dan menjadin
minuman yang unik sehingga mengundang penasaran orang untuk mencobanya.
Minuman jahe merah bukan hanya untuk
menghangatkan badan saja namun juga bermanfaat untuk melancarkan
peredaran darah, meringankan radang tenggorokan, cocok bagi orang yang
mengidap sakit asma, mencegah masuk angin, dan dapat meningkatkan
kekebalan tubuh.
Dari citra rasa yang unik dan segudang manfaat dari minuman jahe merah menjadikan minuman jahe merah menjadi peluang usaha baru yang sangat menjanjikan untuk di kembangkan.
Para pelaku usaha minuman jahe merah
sudah banyak yang sukses dari pasar nasional hingga internasinal.
Minuman yang berasal dari jahe merah inipun dipasarkan dengan berbagai
jenis, ada yang berupa minuman instan berupa bubuk yang siap di seduh,
ada yang berupa minuman langsung dan sebagainya.
Harga yang di tawarkan di pasaran juga
berfariasi, dari yang Rp. 5000 perbungkus hingga Rp. 7500 perbungkusnya.
Maka tidak heran jika para pelaku usaha minuman jahe merah yang telah
sukses dapat mengantongi omset dari puluhan hingga ratusan juta rupiah
perbulannya.
Cara membuat minuman jahe merah tidak
jauh berbeda dengan jahe biasa, namun setiap pelaku bisnis tentu
mempunyai ciri khas tersendiri yang menjadi senjata bagi mereka untuk
melancarkan usahanya. Nah jika anda tertarik untuk mengembangkan usaha
ini, anda bisa mencoba membuat resep minuman sendiri dari jahe merah
dengan citra rasa yang khas. Semoga artikel ini bisa menjadi inspirasi
buat anda.
Rabu, 02 Mei 2012
Jahe Merah : Si Pedas Yang Kaya Manfaat
Jahe merah, yang disebut juga dengan
nama Zingiber officinale varietas rubrum, memiliki ukuran lebih kecil
dibanding jahe biasa dengan kulit yang berwarna kemerahan. Kandungan seratnya
pun lebih besar dari jahe biasa. Jahe merah memiliki aroma paling pedas
dibanding jenis jahe lain dan mengandung minyak atsiri dalam jumlah banyak.
Inilah yang menyebabkan jahe merah cocok dijadikan bahan obat-obatan farmasi
dan berbagai jenis jamu.
Sifat pedas ini menstimulasi selaput
lendir di usus dan lambung sehingga bermanfaat dalam mengurangi rasa sakit.
Tidak hanya itu, jahe merah memiliki peranan yang khas. Jika dicampur
dengan obat atau tanaman herbal lain, jahe merah akan memperkuat khasiat obat atau
jamu tersebut.
Kandungan
Zat Kimia dan Zat Aktif dalam Jahe Merah
Berdasarkan penelitian laboratorium,
jahe merah mengandung berbagai jenis unsur-unsur kimia. Sejauh ini, telah
diketahui bahwa zat gingerol dan minyak terbang, 1,8cineole, limonene, 6-gingerdione,
10-dehydrogingerdione, arginine, alphalinolenic acid, betha-sitosterol,
aspartic acid, capsaicin, caprilic-acid, farnesal, chorogenic acid, farnesol, dan
farnese positif terkandung dalam jahe merah.
Zat-zat tersebut (bersamaan dengan
zat aktif yang terkandung) menjadikan jahe merah kaya akan manfaat. Berikut ini
kandungan yang terdapat di umbi jahe merah.
- Caprylic-acid dan limonene (bermanfaat dalam menghambat pertumbuhan jamur candida albicans, sebagai antikholinesterase, dan obat influenza).
- 1,8cineole (bermanfaat sebagai zat anestetik, mengobati ejakulasi dini, sebagai antikholinesterase, memicu produksi keringat, memicu aktivitas saraf pusat, memicu ereksi, dan memperkuat hepar)
- 10-dehydrogingerdione dan 6-gingerdione (bermanfaat sebagai penekan prostaglandin).
- Zat gingerol (bermanfaat dalam menekan prostaglandin, menghambat produksi enzim siklo oksigense, dan merangsang produksi ASI pada ibu menyusui).
- Alphalinolenic acid (bermanfaat sebagai pemicu meningkatnya sistem kekebalan tubuh, pemicu produksi getah bening, dan penghindar pendarahan di luar haid).
- Arginine (bermanfaat untuk memperkuat daya tahan sperma dan mencegah kemandulan).
- Aspartic acid (bermanfaat dalam memberi kesegaran dan merangsang kerja saraf).
- Betha-sitosterol (bermanfaat sebagai penghambat produksi hormon estrogen, pemicu produksi hormon androgen, pencegah hiper-lipoprotein, dan sebagai bahan baku pembuatan obat steroid).
- Capsaicin (bermanfaat dalam meningkatkan kinerja kelenjar endoktrin, memicu ereksi, dan menghambat produksi enzim 5-lipoksigenase serta enzim dansiklo-oksigenase).
- Chlorogenic acid (bermanfaat sebagai zat antioksidan).
- Farnesal (bermanfaat dalam memperlambat proses penuaan dan memicu regenerasi sel kulit).
- Farnesol (bermanfaat sebagai bahan dasar pewangi dan parfum yang juga dapat memicu regenerasi sel).
Membuat
Ramuan Jahe Merah di Dapur Anda
Sejak ratusan tahun yang lalu,
bangsa China dan Arab sudah memanfaatkan jahe merah dan kandungannya sebagai
obat tradisional untuk berbagai penyakit. Orang-orang Tiongkok mengolah jahe
merah untuk mengobati sakit di pencernaan, ginjal, dan memperbaiki fungsi
limpa. Sementara itu, orang-orang Arab memanfaatkan jahe merah untuk
menghangatkan badan dan menjaga daya tahan tubuh.
Saat ini, berbagai produk olahan
jahe merah dapat dengan mudah Anda jumpai di pasaran di Indonesia.
Produk-produk olahan tersebut meliputi serbuk minuman jahe merah instan dan
berbagai jamu (di mana jahe merah dicampurkan dengan bahan-bahan lain agar khasiatnya
lebih maksimal). Anda bisa memilih ragam produk olahan jahe merah yang sesuai
dengan kebutuhan Anda.
Akan tetapi, jika Anda mau sedikit
berusaha untuk bereksperimen, membuat obat herbal dan jamu dengan kandungan
jahe merah tidak sesulit yang Anda bayangkan. Ini dia beberapa resep obat
herbal jahe merah yang bisa Anda praktikkan di dapur Anda.
1.
Ramuan Jahe Merah untuk Mengobati Batuk
Membuat ramuan herbal dari jahe
merah untuk meredakan batuk cukup mudah. Yang harus Anda lakukan pertama-tama
adalah mengiris 3 rimpang jahe merah sebesar ibu jari, kemudian cuci hingga
bersih; pastikan tidak ada tanah atau kotoran yang tertinggal di permukaan jahe
merah Anda.
Selanjutnya, Anda hanya perlu
merebus irisan 3 rimpang jahe merah tersebut di dalam air sebanyak 2 gelas.
Rebuslah hingga mendidih dan setengah dari air tersebut menguap. Minumlah air
rebusan jahe merah itu dua kali sehari. Akan tetapi, jika batuk Anda cenderung
kering dan tidak kunjung sembuh dalam jangka waktu lama, cobalah mengunyah
beberapa rimpang jahe merah dan telanlah airnya.
2.
Ramuan Jahe Merah untuk Mengatasi Pegal-pegal
Jahe merah dapat mengurangi rasa
pegal-pegal. Caranya, cukup sediakan 2 umbi jahe merah sebesar ibu jari.
Cucilah jahe merah tersebut hingga bersih, lantas bakar dan kuliti. Setelah
itu, memarkan jahe merah yang telah dibakar dan dikuliti. Rebus jahe merah
memar tersebut di dalam susu sapi segar sebanyak dua gelas. Minumlah ramuan ini
sebanyak dua kali sehari.
3.
Ramuan Jahe Merah untuk Mengobati Sakit Kepala
Untuk mengobati sakit kepala, cuci 3
rimpang jahe merah seukuran ibu jari hingga bersih. Kemudian, bakar jahe merah
tersebut lalu memarkan. Seduh jahe merah bakar tersebut dalam segelas air,
tambahkan sedikit madu atau gula aren sesuai selera. Minumlah ramuan jahe merah
ini.
4.
Ramuan Jahe Merah sebagai Obat Kuat
Untuk membuat obat kuat dari jahe
merah, caranya mudah. Cukup rebus jahe merah yang telah dicuci bersih di dalam
air mendidih, lalu minum. Khasiatnya akan lebih maksimal jika ramuan ini
dicampur dengan tanaman-tanaman herbal lain yang manfaatnya kurang lebih sama
dengan jahe merah.
5.
Ramuan Jahe Merah untuk Mengatasi Perut Mulas
Jahe merah juga bisa mengatasi atau
setidaknya mengurangi rasa mulas pada perut Anda. Caranya, parutlah 3 rimpang
jahe merah lalu peras airnya. Kemudian minum air perasan jahe merah ini tiga
kali sehari sebanyak 1 sendok teh. Agar pengobatan maksimal, ulangi konsumsi
air perasan jahe merah selama 3 hari berturut-turut.
6.
Ramuan Jahe Merah untuk Menambah Daya Tahan Tubuh
Jahe merah juga mengandung zat yang
bisa membuat daya tahan tubuh Anda meningkat. Untuk merasakan manfaatnya,
buatlah ramuan ini. Pertama, sediakan 1 rimpang jahe merang, 4 biji buah
kemukus, 2 biji bunga cengkih, 3 biji buah cabai Jawa, seperlima butir biji
pala, 1 ruas batang sereh, setengah lembar daun jeruk purut, dan gula aren
serta kulit kayu manis secukupnya. Campurkan dan didihkan rempah-rempah
tersebut ke dalam 200 ml air matang. Minum ramuan jamu ini setiap pagi dan sore
hari (habiskan 100 ml ramuan jahe merah ini dalam sekali minum).
Selain dijadikan ramuan untuk
dikonsumsi, jahe merah juga bisa dijadikan lalapan bagi ibu menyusui untuk
meningkatkan produksi ASI. Sementara itu, untuk mengurangi gejala influenza,
jahe merah bisa digunakan sebagai obat luar pereda sakit. Caranya, ambil
beberapa rimpang jahe, campur dengan air secukupnya, lalu hancurkan hingga
berbentuk pasta. Gosokkan pasta jahe merah ini di bagian tubuh yang tepat,
seperti pelipis dan punggung.
Dampak
Negatif Jahe Merah
Jahe merah dengan segudang
manfaatnya juga rupanya memiliki dampak negatif. Memang tidak semua orang yang
bisa terkena dampak negatifnya, hanya orang-orang yang memiliki riwayat
penyakit maag yang bisa terkena dampaknya. Pasalnya, kandungan gingerol
dalam jahe merah (yang bermanfaat dalam menekan prostaglandin, menghambat
produksi enzim siklo oksigense, dan merangsang produksi ASI pada ibu menyusui)
bersifat panas bagi lambung. Rasa panas ini akan memicu produksi asam lambung
yang berlebihan sehingga menyebabkan timbulnya gejala sakit maag.
Selain gingerol, ada zat aktif lain
di jahe merah yang dapat mengancam kehidupan janin. Oleh karena itu, ibu
hamil sebaiknya bersikap bijak dan waspada untuk tidak mengonsumsi jahe merah
selama mengandung karena meningkatkan risiko keguguran.
(http://www.anneahira.com)
NILAI TAMBAH DARI PRODUK OLAHAN JAHE
Selama ini rimpang jahe lebih banyak dipasarkan dalam bentuk
segar. Padahal, jahe bisa diolah menjadi berbagai produk yang mampu
memberi nilai tambah bagi para petani. Pengolahan produk jahe segar ini
terutama sangat diperlukan ketika panen raya dan harga mengalami
kejatuhan. Juga ketika sebagian areal tanaman terserang penyakit.
Tanaman jahe yang sampai dengan umur 3 - 4 bulan sehat walafiat, bisa
saja kemudian terserang cendawan fusarium atau bakteri pseudomonas
hingga seluruh areal tanaman menjadi layu dan mati. Sebelum terlambat,
begitu tampak satu dua tanaman terserang penyakit, sebaiknya seluruh
tanaman segera dipanen muda untuk dijadikan asinan jahe (pickle). Dengan
cara ini petani bisa terhindar dari kebangkrutan. Selain terbawa oleh
benih, penyakit layu cendawan dan bakteri ini juga disebabkan oleh lahan
yang masih tercemar bibit penyakit. Bisa pula penyakit datang dari
lahan pertanian di sekitarnya.
Bahan untuk produk olehan jahe, dalamhal ini hanya dibatasi jahe gajah atau jahe badak, yakni jahe yang ukurannya paling besar dan produktivitasnya paling tinggi. Sebab jahe emprit atau jahe sunti, lebih banyak dimanfaatkan untuk minyak asiri dan oleoresin. Sementara jahe merah lebih banyak diolah untujk bahan jamu. Jahe gajah alias jehe badak merupakan komoditas jahe yang paling banyak dibudidayakan di dunia. Jahe badak yang akan dioleh, dibedakan menjadi jahe muda (umur 3 - 4 bulan) dan jahe tua (umur di atas 9 bulan). Selain itu, masih dikenal pula rebung jahe, yakni jahe yang masih sangat muda, yakni umur sekitar 1 bulan. Jahe muda biasanya diolah menjadi asinan jahe, jahe dalam sirup dan kristal jahe.
Dikenal dua macam asinan jahe, yakni asinan jahe cina dan australia. Asinan jahe cina adalah jehe muda yang dikupas dan dipotong-potong sesuai dengan kelas mutunya, kemudian dicampur garam. Volume garam 30% dari volume jahe yang telah dikupas dan dibersihkan. Jahe yang telah tercampur garam, dimasukkan ke dalam wadah kemudian ditutup rapat dengan pemberat. Setelah 24 jam, cairan yang keluar dari daging jahe dibuang. Ke dalam wadah itu, ditambahkan lagi garam dan cuka dengan perbandingan 30% dari volume jahe. Adonan ini selanjutnya diperam selama 1 minggu (7 hari) sampai siap dipasarkan. Asinan jahe cina dibedakan menjadi beberapa kualitas. yakni 1 Young Stem Ginger; 2 Choise Selected Stem Ginger; 3 Fingers; 4 Cargo Ginger; 5 Skins, Shavings, Tops dan Tails. Proses pembuatan asinan jahe cina relatif sangat sederhana. Sebab pada prinsipnya hanya berupa pengupasan, pemotongan, pencucian dan pemeraman dengan garam selama 24 jam, kemudian pemeraman dengan garam dan cuka selama seminggu.
Proses pembuatan asinan jahe australia juga dimulai dengan pengupasan, pemotongan, pencucian dan kemudian pemeraman. Bahan untuk memeram asinan jehe australia adalah garam 15% (separo asinan cina); larutan asam sitrat 1%; larutan belerang dioksida 5%. Larutan belerang dioksina, digunakan untuk mencegah berubahnya warna daging umbi jahe menjadi kecokelatan. Pemeraman asinan jahe australia hanya dilakukan sekali, namun jangka waktunya antara 1 bulan sd. 1 tahun, tergantung kapan jahe itu akan dipasarkan. Produk jahe dalam sirup juga dikenal model cina dan australia.
Jahe dalam sirup model cina, sebenarnya jahe asin yang diberi sirup. Caranya, jahe asin dicuci bersih kemudian direndam dalam air bersih selama dua hari untuk melarutkan garam dan cuka. Setelah itu jahe direbus selama 10 menit. Selama perebusan, rimpang asinan ini ditusuk-tusuk dengan garpu untuk memudahkan pelarutan gula ke dalam daging umbi jahe. Pelan-pelan dimasukkan gula pasir ke dalam wadah perebusan. Volume gula yang diperlukan sebanyak 60% dari volume jahe. Air juga perlu ditambahkan sampai seluruh gula larut dan asinan terendam. Perebusan dilakukan selama 45 menit. Kemudian api dimatikan dan diperam selama 2 sd. 3 hari. Setelah itu kembali dilakukan perebusan tahap II selama 45 menit. Setelah itu jahe dalam sirup model cina siap untuk dipasarkan. Kemasan jahe dalam sirup model cina biasanya berupa wadah drum atau guci, dengan volume 100 kg. dan 50 kg. atau sesuai dengan pesanan.
Jahe dalam sirup model australia, juga berasal dari bahan baku asinan jahe australia yang sudah tersimpan di atas 1 bulan. Sebelum diproses dengan larutan gula, asinan jahe ini direbus sampai lunak. Tujuan perebusan adalah untuk menghilangkan belerang dioksidanya. Setelah lunak, jahe diangkat dan ditiriskan kemudian dimasukkan ke dalam larutan sirup dengan kepekatan 30%. Larutan sirup ini kemudian dipanaskan dalam suhu sekitar 50° C selama 15 menit. Setelah itu jehe diangkat, ditiriskan dan kemudian kembali dimasukkan ke dalam larutan sirup. Proses pembuatan jahe dalam sirup model cina dan australia, sering dianggap kurang praktis. Hingga kadang-kadang jahe dalam sirup langsung diproduksi dengan bahan baku jahe segar. Pertama jahe muda segar dikupas, dipotong-potong dan dicuci bersih. Potongan jahe ini kemudian direbus dalam air tawar selama 15 menit untuk mengurangi tingkat kepedasannya. Selanjutnya jahe direbus dalam larutan gula. Volume gula yang digunakan sebanyak 75% dari volume jahe. Perebusan dilakukan selama 45 menit, kemudian didinginkan selama 2 hari dan didihkan lagi selama 45 menit.
Yang dimaksud dengan jahe kristal adalah proses pengolahan lebih lanjut dari jahe dalam sirup model cina maupun australia. Setelah perebusan tahap II, jahe dalam sirup model cina kembali didinginkan selama 2 hari. Setelah itu dilakukan perebusan tahap III sampai sirupnya menjadi sangat pekat. Setelah itu jahe ditiriskan, dicampur dengan kristal gula dan dikeringkan. Setelah kering, kristal jahe dikemas untuk dipasarkan. Jahe kristal model australia, juga berasal dari jahe dalam sirup. Dalam model australia, tidak dilakukan perebusan. Jahe yang telah ditiriskan langsung dimasukkan ke dalam larutan gula pekat, dimasukkan ke dalam gula sukrosa dan dikeringkan dengan dehidrator dalam suhu 50° C selama 2 jam. Sama halnya dengan jahe dalam sirup, jahe kristal juga bisa dibuat secara langsung dengan bahan baku jahe segar. Caranya, jahe dalam sirup yang berasal dari jehe segar, kembali direbus sampai larutan gulanya menjadi pekat. Setalah itu jahe dilumuri gula pasir dan ditiriskan serta dikeringkan.
Kalau jahe muda merupakan bahan baku asinan, jahe dalam sirup dan jahe kristal, maka jahe tua biasanya dikeringkan. Selama ini, petani jahe kita selalu menjual produknya dalam bentuk jahe tua segar. Kalau kebetulan pada saat panen raya harga jahe jatuh, maka petani kita akan gigit jari. Padahal, jahe bisa dikeringkan dengan cara yang sangat sederhana untuk memperoleh nilai tambah. Ada empat macam jahe kering yang diperdagangkan di pasar internasional. Keempat macam produk jahe kering itu adalah: 1 Scraped ginger, yakni rimpang jahe yang dikupas, diiris dan dikeringkan. 2 Coated gingger, yakni irisan jahe tanpa dikupas dan dikeringkan. 3 Bleached ginger, yakni irisan jahe yang sebelum dikeringkan terlebih dahulu dicelupkan ke dalam air kapur. 4 Black ginger, yakni jahe utuh tanpa dikupas yang dicelupkan ke dalam air mendidih lalu dikeringkan.
Black ginger paling mudah dibuat oleh para petani kita, sebab panen jahe tua selalu terjadi pada bulan Juni atau Juli bertepatan dengan musim kemarau. Rimpang jahe tua segar, harus dibersihkan akar-akarnya. Setelah itu dicuci bersih lalu dicelupkan ke dalam air mendidih selama 15 menit. Pencelupan dilakukan dengan menggunakan keranjang bambu dengan anyaman jarang, yang diberi tali untuk pengikat galah. Galah ini berguna agar keranjang bisa diangkat untuk dimasukkan ke dalam drum maupun ditarik kembali. Jahe segar ditaruh dalam keranjang tersebut, kemudian keranjang dicelupkan ke dalam wadah berisi air mendidih. Biasanya air dididihkan dalam drum besar. Diameter keranjang untuk wadah jahe, harus sedikit lebih kecil dari diameter drum. Setelah dicelup air mendidihn jahe ditiriskan dan selanjutnya dijemur sampai kering. Diperlukan waktu sekitar satu minggu agar diperoleh tingkat kekeringan dengan kadar air 10 sd. 15% sesuai dengan standar perdagangan.
Produk jahe kering dengan harga tertinggi adalah Scraped ginger. Produk ini adalah jahe gajah kualitas baik dengan ketuaan optimal yang dikupas, diiris dan kemudian dikeringkan. Yang harganya agak lebih murah adalah Coated gingger, yakni jahe kering irisan tanpa dikupas. Baik Coated gingger maupun Scraped ginger akan disebut sebagai Bleached ginger, kalau sebelum dikeringkan terlebih dahulu dicelup ke dalam air kapur. Karena panen jahe di Indonesia pasti jatuh pada pertengahan musim kemarau, maka tidak akan pernah ada kesulitan dalam upaya pengeringannya. Sebab pengeringan dengan menggunakan energi matahari, tetap paling murah jika dibandingkan dengan pengeringan menggunakan dryer. Namun untuk memperoleh kualitas jehe kering terbaik dengan kadar air 10%, diperlukan kombinasi pengeringan tenaga matahari dengan dryer. Di Indonesia, dryer berenergi tenaga matahari juga tetap paling murah. Namun dryer dengan pemanas kayu bakar serta limbah pertanian pun, juga tetap murah.
Sebenarnya produk jahe kering ini masih bisa diolah lebih lanjut menjadi tepung (serbuk jahe). Pengolahan jahe kering sampai menjadi serbuk dilakukan dengan penggilingan biasa sampai mencapai ukuran 50 - 60 mesh. Penggunaan jahe bubuk terbanyak adalah untuk oleoresin dan minyak asiri. Namun penggunaan untuk rempah dan minuman jahe pun, sekarang juga mulai marak di negarai kita. Penggunaan oleoresin makin lama akan semakin meluas, sebab produk ini tidak mungkin tergantikan dengan tepung jahe. Tingkat kepedasan, aroma dll. oleoresin sudah bisa distandarkan. sementara persyaratan perdagangan tepung jahe tidak sampai ke tingkat kepedasan dan keharumannya. Saat ini, produsen oleoresin terkemuka di duni adalah Prancis dan India. Beberapa eksportir jahe kita, selalu mencari jahe segar ke Australia dan RRC untuk direekspor ke India. Padahal dengan melakukan pengolahan secara sederhana, kita akan bisa memperoleh nilai tambah yang sangat menguntungkan bagi para petani. (R) * * * (http://foragri.blogsome.com)
Bahan untuk produk olehan jahe, dalamhal ini hanya dibatasi jahe gajah atau jahe badak, yakni jahe yang ukurannya paling besar dan produktivitasnya paling tinggi. Sebab jahe emprit atau jahe sunti, lebih banyak dimanfaatkan untuk minyak asiri dan oleoresin. Sementara jahe merah lebih banyak diolah untujk bahan jamu. Jahe gajah alias jehe badak merupakan komoditas jahe yang paling banyak dibudidayakan di dunia. Jahe badak yang akan dioleh, dibedakan menjadi jahe muda (umur 3 - 4 bulan) dan jahe tua (umur di atas 9 bulan). Selain itu, masih dikenal pula rebung jahe, yakni jahe yang masih sangat muda, yakni umur sekitar 1 bulan. Jahe muda biasanya diolah menjadi asinan jahe, jahe dalam sirup dan kristal jahe.
Dikenal dua macam asinan jahe, yakni asinan jahe cina dan australia. Asinan jahe cina adalah jehe muda yang dikupas dan dipotong-potong sesuai dengan kelas mutunya, kemudian dicampur garam. Volume garam 30% dari volume jahe yang telah dikupas dan dibersihkan. Jahe yang telah tercampur garam, dimasukkan ke dalam wadah kemudian ditutup rapat dengan pemberat. Setelah 24 jam, cairan yang keluar dari daging jahe dibuang. Ke dalam wadah itu, ditambahkan lagi garam dan cuka dengan perbandingan 30% dari volume jahe. Adonan ini selanjutnya diperam selama 1 minggu (7 hari) sampai siap dipasarkan. Asinan jahe cina dibedakan menjadi beberapa kualitas. yakni 1 Young Stem Ginger; 2 Choise Selected Stem Ginger; 3 Fingers; 4 Cargo Ginger; 5 Skins, Shavings, Tops dan Tails. Proses pembuatan asinan jahe cina relatif sangat sederhana. Sebab pada prinsipnya hanya berupa pengupasan, pemotongan, pencucian dan pemeraman dengan garam selama 24 jam, kemudian pemeraman dengan garam dan cuka selama seminggu.
Proses pembuatan asinan jahe australia juga dimulai dengan pengupasan, pemotongan, pencucian dan kemudian pemeraman. Bahan untuk memeram asinan jehe australia adalah garam 15% (separo asinan cina); larutan asam sitrat 1%; larutan belerang dioksida 5%. Larutan belerang dioksina, digunakan untuk mencegah berubahnya warna daging umbi jahe menjadi kecokelatan. Pemeraman asinan jahe australia hanya dilakukan sekali, namun jangka waktunya antara 1 bulan sd. 1 tahun, tergantung kapan jahe itu akan dipasarkan. Produk jahe dalam sirup juga dikenal model cina dan australia.
Jahe dalam sirup model cina, sebenarnya jahe asin yang diberi sirup. Caranya, jahe asin dicuci bersih kemudian direndam dalam air bersih selama dua hari untuk melarutkan garam dan cuka. Setelah itu jahe direbus selama 10 menit. Selama perebusan, rimpang asinan ini ditusuk-tusuk dengan garpu untuk memudahkan pelarutan gula ke dalam daging umbi jahe. Pelan-pelan dimasukkan gula pasir ke dalam wadah perebusan. Volume gula yang diperlukan sebanyak 60% dari volume jahe. Air juga perlu ditambahkan sampai seluruh gula larut dan asinan terendam. Perebusan dilakukan selama 45 menit. Kemudian api dimatikan dan diperam selama 2 sd. 3 hari. Setelah itu kembali dilakukan perebusan tahap II selama 45 menit. Setelah itu jahe dalam sirup model cina siap untuk dipasarkan. Kemasan jahe dalam sirup model cina biasanya berupa wadah drum atau guci, dengan volume 100 kg. dan 50 kg. atau sesuai dengan pesanan.
Jahe dalam sirup model australia, juga berasal dari bahan baku asinan jahe australia yang sudah tersimpan di atas 1 bulan. Sebelum diproses dengan larutan gula, asinan jahe ini direbus sampai lunak. Tujuan perebusan adalah untuk menghilangkan belerang dioksidanya. Setelah lunak, jahe diangkat dan ditiriskan kemudian dimasukkan ke dalam larutan sirup dengan kepekatan 30%. Larutan sirup ini kemudian dipanaskan dalam suhu sekitar 50° C selama 15 menit. Setelah itu jehe diangkat, ditiriskan dan kemudian kembali dimasukkan ke dalam larutan sirup. Proses pembuatan jahe dalam sirup model cina dan australia, sering dianggap kurang praktis. Hingga kadang-kadang jahe dalam sirup langsung diproduksi dengan bahan baku jahe segar. Pertama jahe muda segar dikupas, dipotong-potong dan dicuci bersih. Potongan jahe ini kemudian direbus dalam air tawar selama 15 menit untuk mengurangi tingkat kepedasannya. Selanjutnya jahe direbus dalam larutan gula. Volume gula yang digunakan sebanyak 75% dari volume jahe. Perebusan dilakukan selama 45 menit, kemudian didinginkan selama 2 hari dan didihkan lagi selama 45 menit.
Yang dimaksud dengan jahe kristal adalah proses pengolahan lebih lanjut dari jahe dalam sirup model cina maupun australia. Setelah perebusan tahap II, jahe dalam sirup model cina kembali didinginkan selama 2 hari. Setelah itu dilakukan perebusan tahap III sampai sirupnya menjadi sangat pekat. Setelah itu jahe ditiriskan, dicampur dengan kristal gula dan dikeringkan. Setelah kering, kristal jahe dikemas untuk dipasarkan. Jahe kristal model australia, juga berasal dari jahe dalam sirup. Dalam model australia, tidak dilakukan perebusan. Jahe yang telah ditiriskan langsung dimasukkan ke dalam larutan gula pekat, dimasukkan ke dalam gula sukrosa dan dikeringkan dengan dehidrator dalam suhu 50° C selama 2 jam. Sama halnya dengan jahe dalam sirup, jahe kristal juga bisa dibuat secara langsung dengan bahan baku jahe segar. Caranya, jahe dalam sirup yang berasal dari jehe segar, kembali direbus sampai larutan gulanya menjadi pekat. Setalah itu jahe dilumuri gula pasir dan ditiriskan serta dikeringkan.
Kalau jahe muda merupakan bahan baku asinan, jahe dalam sirup dan jahe kristal, maka jahe tua biasanya dikeringkan. Selama ini, petani jahe kita selalu menjual produknya dalam bentuk jahe tua segar. Kalau kebetulan pada saat panen raya harga jahe jatuh, maka petani kita akan gigit jari. Padahal, jahe bisa dikeringkan dengan cara yang sangat sederhana untuk memperoleh nilai tambah. Ada empat macam jahe kering yang diperdagangkan di pasar internasional. Keempat macam produk jahe kering itu adalah: 1 Scraped ginger, yakni rimpang jahe yang dikupas, diiris dan dikeringkan. 2 Coated gingger, yakni irisan jahe tanpa dikupas dan dikeringkan. 3 Bleached ginger, yakni irisan jahe yang sebelum dikeringkan terlebih dahulu dicelupkan ke dalam air kapur. 4 Black ginger, yakni jahe utuh tanpa dikupas yang dicelupkan ke dalam air mendidih lalu dikeringkan.
Black ginger paling mudah dibuat oleh para petani kita, sebab panen jahe tua selalu terjadi pada bulan Juni atau Juli bertepatan dengan musim kemarau. Rimpang jahe tua segar, harus dibersihkan akar-akarnya. Setelah itu dicuci bersih lalu dicelupkan ke dalam air mendidih selama 15 menit. Pencelupan dilakukan dengan menggunakan keranjang bambu dengan anyaman jarang, yang diberi tali untuk pengikat galah. Galah ini berguna agar keranjang bisa diangkat untuk dimasukkan ke dalam drum maupun ditarik kembali. Jahe segar ditaruh dalam keranjang tersebut, kemudian keranjang dicelupkan ke dalam wadah berisi air mendidih. Biasanya air dididihkan dalam drum besar. Diameter keranjang untuk wadah jahe, harus sedikit lebih kecil dari diameter drum. Setelah dicelup air mendidihn jahe ditiriskan dan selanjutnya dijemur sampai kering. Diperlukan waktu sekitar satu minggu agar diperoleh tingkat kekeringan dengan kadar air 10 sd. 15% sesuai dengan standar perdagangan.
Produk jahe kering dengan harga tertinggi adalah Scraped ginger. Produk ini adalah jahe gajah kualitas baik dengan ketuaan optimal yang dikupas, diiris dan kemudian dikeringkan. Yang harganya agak lebih murah adalah Coated gingger, yakni jahe kering irisan tanpa dikupas. Baik Coated gingger maupun Scraped ginger akan disebut sebagai Bleached ginger, kalau sebelum dikeringkan terlebih dahulu dicelup ke dalam air kapur. Karena panen jahe di Indonesia pasti jatuh pada pertengahan musim kemarau, maka tidak akan pernah ada kesulitan dalam upaya pengeringannya. Sebab pengeringan dengan menggunakan energi matahari, tetap paling murah jika dibandingkan dengan pengeringan menggunakan dryer. Namun untuk memperoleh kualitas jehe kering terbaik dengan kadar air 10%, diperlukan kombinasi pengeringan tenaga matahari dengan dryer. Di Indonesia, dryer berenergi tenaga matahari juga tetap paling murah. Namun dryer dengan pemanas kayu bakar serta limbah pertanian pun, juga tetap murah.
Sebenarnya produk jahe kering ini masih bisa diolah lebih lanjut menjadi tepung (serbuk jahe). Pengolahan jahe kering sampai menjadi serbuk dilakukan dengan penggilingan biasa sampai mencapai ukuran 50 - 60 mesh. Penggunaan jahe bubuk terbanyak adalah untuk oleoresin dan minyak asiri. Namun penggunaan untuk rempah dan minuman jahe pun, sekarang juga mulai marak di negarai kita. Penggunaan oleoresin makin lama akan semakin meluas, sebab produk ini tidak mungkin tergantikan dengan tepung jahe. Tingkat kepedasan, aroma dll. oleoresin sudah bisa distandarkan. sementara persyaratan perdagangan tepung jahe tidak sampai ke tingkat kepedasan dan keharumannya. Saat ini, produsen oleoresin terkemuka di duni adalah Prancis dan India. Beberapa eksportir jahe kita, selalu mencari jahe segar ke Australia dan RRC untuk direekspor ke India. Padahal dengan melakukan pengolahan secara sederhana, kita akan bisa memperoleh nilai tambah yang sangat menguntungkan bagi para petani. (R) * * * (http://foragri.blogsome.com)
Permen Jahe Populer di Eropa
Siapa yang tahu harga permen jahe saat ini? Maklum, semakin jarang
dijual di warung-warung sekitar kita. Permen jahe biasanya diproduksi
oleh industri rumahan, jadi kalah bersaing dengan permen lain hasil
pabrik.
Siapa sangka, permen ini ternyata sudah ratusan tahun terkenal di Eropa. Setidaknya begitulah yang tertuang dalam tulisan John Joseph Stockdale dalam bukunya Island of Java.
Petualang asal Inggris ini menyatakan dalam bukunya, Belanda mengirimkan sebanyak 5.000 kilogram produk yang disebut dengan candied ginger dari Batavia ke Eropa pada tahun 1778. Melihat jumlahnya, sangatlah besar untuk ukuran pada masa itu.
Penganan ini digemari oleh masyarakat Eropa karena dirasakan pas untuk kondisi alam mereka yang dingin.
Selain itu, penganan tradisional ini juga memiliki kemampuan untuk menghangatkan badan, menyegarkan tenggorakan dan menyembuhkan kembung dan menghangatkan badan dan menyegarkan tenggorokon.
Hebatnya lagi, permen jahe juga terpilih sebagai salah satu permen khas Indonesia yang tak kalah terkenal dibanding dengan Nougat (Perancis) atau Gummy Bear (Jerman).
Sumber: beritasatu.com
Siapa sangka, permen ini ternyata sudah ratusan tahun terkenal di Eropa. Setidaknya begitulah yang tertuang dalam tulisan John Joseph Stockdale dalam bukunya Island of Java.
Petualang asal Inggris ini menyatakan dalam bukunya, Belanda mengirimkan sebanyak 5.000 kilogram produk yang disebut dengan candied ginger dari Batavia ke Eropa pada tahun 1778. Melihat jumlahnya, sangatlah besar untuk ukuran pada masa itu.
Penganan ini digemari oleh masyarakat Eropa karena dirasakan pas untuk kondisi alam mereka yang dingin.
Selain itu, penganan tradisional ini juga memiliki kemampuan untuk menghangatkan badan, menyegarkan tenggorakan dan menyembuhkan kembung dan menghangatkan badan dan menyegarkan tenggorokon.
Hebatnya lagi, permen jahe juga terpilih sebagai salah satu permen khas Indonesia yang tak kalah terkenal dibanding dengan Nougat (Perancis) atau Gummy Bear (Jerman).
Sumber: beritasatu.com
Selasa, 01 Mei 2012
Peluang Usaha Minyak Atsiri Jahe
Jahe merupakan jenis umbi/rimpang yang sudah banyak dikenal dan
digunakan oleh masyarakat luas berkaitan dengan kandungan dan
manfaatnya. Pengolahan dan pemanfaat jenis rimpang yang satu ini antara
lain sebagai bumbu dapur, diolah sebagai minuman hangat baik dalam
bentuk segar ataupun sudah diolah lebih lanjut dalam bentuk bubuk siap
pakai. Satu lagi yang dapat dimanfaatkan dari rimpang jahe adalah
diambil kandungan minyak atsiri jahe melalui proses penyulingan.
Ketersediaan rimpang jahe yang sangat melimpah serta proses
pengolahan/penyulingan yang cukup mudah menjadikan Usaha pengolahan minyak atsiri jahe ini menjadi peluang usaha yang sangat sayang untuk dilewatkan.
Mengenal lebih jauh mengenai minyak atsiri, minyak atsiri adalah senyawa mudah menguap yang tidak larut di dalam air yang berasal dari tanaman diantaranya terkandung dalam rimpang jahe. Secara garis proses pengolahan jahe untuk menghasilkan minyak atsiri adalah sebagai berikut : Minyak atsiri dapat dipisahkan dari jaringan tanaman melalui proses destilasi. Pada proses ini jaringan tanaman dipanasi dengan air atau uap air. Minyak atsiri akan menguap dari jaringan bersama uap air yang terbentuk atau bersama uap air yang dilewatkan pada bahan. Campuran uap air dan minyak atsiri dikondensasikan pada suatu saluran yang suhunya relatif rendah. Hasil kondensasi berupa campuran air dan minyak atsiri yang sangat mudah dipisahkan karena kedua bahan tidak dapat saling melarutkan.
Metode Penyulingan
Kandungan minyak atsiri dalam rimpang jahe kurang lebih sebesar 1-3%. Ada beberapa teknik penyulingan minyak atsiri pada rimpang jahe yang dapat dilakukan, yaitu :
Ø Metode perebusan
Bahan baku dalam hal ini rimpang jahe direbus di dalam air mendidih. Minyak atsiri akan menguap bersama uap air, kemudian dilewatkan melalui kondensor untuk kondensasi. Alat yang digunakan untuk metode ini disebut alat suling perebus.
Ø Metode pengukusan
Rimpang jahe (bahan baku) dikukus di dalam ketel yang konstruksinya hampir sama dengan dandang. Minyak atsiri akan menguap dan terbawa oleh aliran uap air yang dialirkan ke kondensor untuk kondensasi. Alat yang digunakan untuk metode ini disebut suling pengukus.
Ø Metode uap langsung
Bahan baku (rimpang jahe) dialiri dengan uap yang berasal dari ketel pembangkit uap. Minyak atsiri akan menguap dan terbawa oleh aliran uap air yang dialirkan ke kondensor untuk kondensasi. Alat yang digunakan untuk metode ini disebut alat suling uap langsung.
Pada umumnya untuk skala kecil seperti yang dilakukan oleh kebanyakan petani, metode pengukusan paling sering digunakan karena mutu produk cukup baik, proses cukup efisien, dan harga alat tidak terlalu mahal, sedangkan untuk untuk skala besar, metode uap langsung yang paling baik karena paling efisien dibanding cara lainnya.
Bahan yang diperlukan dalam proses produksi minyak atsiri jahe terdiri atas : Rimpang jahe, air serta Kertas saring berlapis magnesium karbonat.
Peralatan yang diperlukan dalam pengolahan rimpang jahe menjadi minyak atsiri jahe terdiri atas :
· Alat suling pengukus. Alat ini digunakan untuk menyuling minyak atsiri dengan metode pengukusan. Bagian-bagian utama dari alat penyuling ini ialah : Ketel suling, pengembun uap (kondensor) serta penampung hasil pengembunan.
· Botol kaca berwarna gelap, atau jerigen plastik kualitas tinggi.
Proses pengolahan :
a. Penyiapan Bahan
Sebelum dilakukan poses pengolahan rimpang jahe, perlu dilakukan beberapa persiapan yaitu rimpang jahe dicuci sampai bersih, kemudian dipotong kecil-kecil (dirajang) dengan ketebalan berkisar antara 2 sampai 4 mm. Atau rimpang jahe dapat juga digeprak (dipukul sampai memar dan pecah, tapi tidak sampai hancur). Tahap pembersihan ini jahe yang akan disuling tidak perlu dikuliti karena pengulitan akan menurunkan rendeman minyak atsiri jahe.
Catatan : Ukuran potongan (rimpang) harus diusahakan seseragam mungkin. Ukuran yang tidak seragam akan meyulitkan penyusunan bahan di dalam ketel secara baik.
b. Penyiapan Alat Suling
Setelah bahan baku (jahe) siap, dilakukan persiapan alat yaitu bagian dalam ketel dibersihkan. Setelah itu ketel diisi dengan air bersih, dengan permukaan air berada 3-5 cm di bawah plat berpori yang menjadi alas irisan jahe. Air yang paling baik diisikan adalah air hujan, karena air ini tidak akan menimbulkan endapan atau kerak pada dinding dalam ketel.
c. Pengisian Bahan ke dalam Ketel .
1. Bahan baku yaitu rimpang jahe yang sudah dirajang, diisikan ke dalam ketel secara baik. Bahan disusun dengan formasi seragam dan mempunyai cukup rongga untuk penetrasi uap secara merata ke dalam tumpukan bahan. Perlu diperhatikan , tumpukan bahan yang terlalu padat dapat menyebabkan terbentuk rat holes yaitu suatu jalur uap yang tidak banyak kontak dengan bahan yang disuling. Tentu saja hal ini menyebabkan rendemen dan mutu minyak akan rendah.
2. Setelah bahan diisikan ke dalam ketel, penutup ketel ditutup secara rapat sehingga tidak ada celah sekecil apapun yang memungkinkan uap lolos dari celah tersebut.
d. Penyulingan
Tahapan selanjutnya adalah yang paling utama yaitu proses penyulingan, dilakukan dengan cara :
1. Pertama kondensor dialiri dengan air pendingin. Pada saat itu alat pemisah air-minyak sudah terpasang pada saluran keluar kondensat.
2. Tahap selanjutnya, ketel dipanaskan dengan api tungku atau kompor. Api harus diusahakan hanya mengenai dasar ketel. Api yang terlalu besar bisa menjilat dinding ketel sehingga dinding menjadi sangat panas, dan hal ini dapat menyebabkan gosong atau rusaknya bahan yang terdapat di dalam ketel. Proses penyulingan ini dilakukan selama kurang lebih 16-30 jam. Minyak jahe yang baik berwarna kuning kecoklat-coklatan.
e. Pengurangan air
Dari hasil proses penyulingan tersebut, minyak jahe yang diperoleh masih mengandung sejumlah kecil air. Kandungan air ini dapat dikurangi dengan cara menyaring minyak melalui kertas saring berlapis magnesium karbonat.
Catatan : Untuk memperoleh minyak atsiri jahe dengan kandungan air yang rendah, minyak atsiri jahe harus disentrifusi dengan kecepatan tinggi atau disaring dengan penyaring mekanis.
f. Penyimpanan
Minyak atsiri yang diperoleh selanjutnya disimpan/dikemas di dalam botol kaca yang berwarna gelap dan kering. Botol ini harus ditutup rapat. Jerigen plastik yang berkualitas tinggi juga dapat digunakan sebagai wadah penyimpan minyak atsiri jahe.
Setelah melalui proses pengemasan dan pelabelan, minyak atsiri jahe siap dipasarkan kepada konsumen ataupun industri-industri yang berkaitan. (http://binaukm.com)
Mengenal lebih jauh mengenai minyak atsiri, minyak atsiri adalah senyawa mudah menguap yang tidak larut di dalam air yang berasal dari tanaman diantaranya terkandung dalam rimpang jahe. Secara garis proses pengolahan jahe untuk menghasilkan minyak atsiri adalah sebagai berikut : Minyak atsiri dapat dipisahkan dari jaringan tanaman melalui proses destilasi. Pada proses ini jaringan tanaman dipanasi dengan air atau uap air. Minyak atsiri akan menguap dari jaringan bersama uap air yang terbentuk atau bersama uap air yang dilewatkan pada bahan. Campuran uap air dan minyak atsiri dikondensasikan pada suatu saluran yang suhunya relatif rendah. Hasil kondensasi berupa campuran air dan minyak atsiri yang sangat mudah dipisahkan karena kedua bahan tidak dapat saling melarutkan.
Metode Penyulingan
Kandungan minyak atsiri dalam rimpang jahe kurang lebih sebesar 1-3%. Ada beberapa teknik penyulingan minyak atsiri pada rimpang jahe yang dapat dilakukan, yaitu :
Ø Metode perebusan
Bahan baku dalam hal ini rimpang jahe direbus di dalam air mendidih. Minyak atsiri akan menguap bersama uap air, kemudian dilewatkan melalui kondensor untuk kondensasi. Alat yang digunakan untuk metode ini disebut alat suling perebus.
Ø Metode pengukusan
Rimpang jahe (bahan baku) dikukus di dalam ketel yang konstruksinya hampir sama dengan dandang. Minyak atsiri akan menguap dan terbawa oleh aliran uap air yang dialirkan ke kondensor untuk kondensasi. Alat yang digunakan untuk metode ini disebut suling pengukus.
Ø Metode uap langsung
Bahan baku (rimpang jahe) dialiri dengan uap yang berasal dari ketel pembangkit uap. Minyak atsiri akan menguap dan terbawa oleh aliran uap air yang dialirkan ke kondensor untuk kondensasi. Alat yang digunakan untuk metode ini disebut alat suling uap langsung.
Pada umumnya untuk skala kecil seperti yang dilakukan oleh kebanyakan petani, metode pengukusan paling sering digunakan karena mutu produk cukup baik, proses cukup efisien, dan harga alat tidak terlalu mahal, sedangkan untuk untuk skala besar, metode uap langsung yang paling baik karena paling efisien dibanding cara lainnya.
Bahan yang diperlukan dalam proses produksi minyak atsiri jahe terdiri atas : Rimpang jahe, air serta Kertas saring berlapis magnesium karbonat.
Peralatan yang diperlukan dalam pengolahan rimpang jahe menjadi minyak atsiri jahe terdiri atas :
· Alat suling pengukus. Alat ini digunakan untuk menyuling minyak atsiri dengan metode pengukusan. Bagian-bagian utama dari alat penyuling ini ialah : Ketel suling, pengembun uap (kondensor) serta penampung hasil pengembunan.
· Botol kaca berwarna gelap, atau jerigen plastik kualitas tinggi.
Proses pengolahan :
a. Penyiapan Bahan
Sebelum dilakukan poses pengolahan rimpang jahe, perlu dilakukan beberapa persiapan yaitu rimpang jahe dicuci sampai bersih, kemudian dipotong kecil-kecil (dirajang) dengan ketebalan berkisar antara 2 sampai 4 mm. Atau rimpang jahe dapat juga digeprak (dipukul sampai memar dan pecah, tapi tidak sampai hancur). Tahap pembersihan ini jahe yang akan disuling tidak perlu dikuliti karena pengulitan akan menurunkan rendeman minyak atsiri jahe.
Catatan : Ukuran potongan (rimpang) harus diusahakan seseragam mungkin. Ukuran yang tidak seragam akan meyulitkan penyusunan bahan di dalam ketel secara baik.
b. Penyiapan Alat Suling
Setelah bahan baku (jahe) siap, dilakukan persiapan alat yaitu bagian dalam ketel dibersihkan. Setelah itu ketel diisi dengan air bersih, dengan permukaan air berada 3-5 cm di bawah plat berpori yang menjadi alas irisan jahe. Air yang paling baik diisikan adalah air hujan, karena air ini tidak akan menimbulkan endapan atau kerak pada dinding dalam ketel.
c. Pengisian Bahan ke dalam Ketel .
1. Bahan baku yaitu rimpang jahe yang sudah dirajang, diisikan ke dalam ketel secara baik. Bahan disusun dengan formasi seragam dan mempunyai cukup rongga untuk penetrasi uap secara merata ke dalam tumpukan bahan. Perlu diperhatikan , tumpukan bahan yang terlalu padat dapat menyebabkan terbentuk rat holes yaitu suatu jalur uap yang tidak banyak kontak dengan bahan yang disuling. Tentu saja hal ini menyebabkan rendemen dan mutu minyak akan rendah.
2. Setelah bahan diisikan ke dalam ketel, penutup ketel ditutup secara rapat sehingga tidak ada celah sekecil apapun yang memungkinkan uap lolos dari celah tersebut.
d. Penyulingan
Tahapan selanjutnya adalah yang paling utama yaitu proses penyulingan, dilakukan dengan cara :
1. Pertama kondensor dialiri dengan air pendingin. Pada saat itu alat pemisah air-minyak sudah terpasang pada saluran keluar kondensat.
2. Tahap selanjutnya, ketel dipanaskan dengan api tungku atau kompor. Api harus diusahakan hanya mengenai dasar ketel. Api yang terlalu besar bisa menjilat dinding ketel sehingga dinding menjadi sangat panas, dan hal ini dapat menyebabkan gosong atau rusaknya bahan yang terdapat di dalam ketel. Proses penyulingan ini dilakukan selama kurang lebih 16-30 jam. Minyak jahe yang baik berwarna kuning kecoklat-coklatan.
e. Pengurangan air
Dari hasil proses penyulingan tersebut, minyak jahe yang diperoleh masih mengandung sejumlah kecil air. Kandungan air ini dapat dikurangi dengan cara menyaring minyak melalui kertas saring berlapis magnesium karbonat.
Catatan : Untuk memperoleh minyak atsiri jahe dengan kandungan air yang rendah, minyak atsiri jahe harus disentrifusi dengan kecepatan tinggi atau disaring dengan penyaring mekanis.
f. Penyimpanan
Minyak atsiri yang diperoleh selanjutnya disimpan/dikemas di dalam botol kaca yang berwarna gelap dan kering. Botol ini harus ditutup rapat. Jerigen plastik yang berkualitas tinggi juga dapat digunakan sebagai wadah penyimpan minyak atsiri jahe.
Setelah melalui proses pengemasan dan pelabelan, minyak atsiri jahe siap dipasarkan kepada konsumen ataupun industri-industri yang berkaitan. (http://binaukm.com)
Media Kultur untuk Perbanyakan Bibit Jahe Merah
Jahe merah (Zingiber officinale Rosc.) adalah salah satu jenis tanaman jahe yang banyak dikonsumsi masyarakat sebagai bahan obat. Jahe merah ini berbeda dari jahe biasa yang banyak digunakan sebagai rempah-rempah maupun jahe gajah atau jahe emprit karena kandungan minyak atsiri dan oleoresin pada jahe merah lebih tinggi dibandingkan dengan kandungannya pada jahe jenis lainnya. Jahe merah berkhasiat untuk menyembuhkan sakit kepala (pusing), sinusitis, bronkitis, rematik, asam urat, batu ginjal dan lain-lain. Selain minyak atsiri dan oleoresin, jahe merah juga mengandung gingerol dan shogaol.
Budidaya jahe merah biasa dilakukan dengan menanam rimpangnya, namun karena rizom dipanen dan dikonsumsi yang menyebabkan selalu harus disediakan bibit dalam jumlah banyak, penyediaan bibit dengan cara lain seperti tersedianya planlet hasil kultur jaringan sangat diperlukan. Bibit hasil kultur jaringan telah terbukti mempunyai beberapa keunggulan seperti kontinyuitas ketersediaan bibit yang dapat dijamin, bibit terstandardisasi, dapat diproduksi dalam jumlah banyak, tidak tergantung musim dan bebas hari hama dan penyakit. Selain itu, teknik kutltur jaringan dipilih selain untuk perbanyakan bibit juga untuk tujuan konservasi secara in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan perbanyakan in vitro jahe merah dengan teknik kultur tunas pada media sederhana.
Media yang dipergunakan merupakan media sederhana yaitu media MS cair tanpa penggunaan zat pengatur tumbuh dengan pengurangan konsentrasi gula. Sebagai kontrol tunas ditumbuhkan pada media MS cair yang dipadatkan dengan 20 g/l sukrosa dengan penambahan zat pengatur tumbuh 1 mg/l BAP. Penyederhanaan media dilakukan pada media cair yang mengandung gula (sebagai pengganti sukrosa) dengan konsentrasi 0, 5, 10 dan 20 g/l. Tabung kultur yang dipergunakan adalah botol kaca dibandingkan dengan tabung magenta yang diberi atau tanpa ventilasi untuk meningkatkan pertukaran udara masuk dan keluar tabung.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sukrosa dapat digantikan dengan gula biasa dan konsentrasi 20 g/l dapat dikurangi menjadi 10 g/l tanpa menurunkan kualitas pertumbuhan tunas jahe, penurunan gula menjadi 5 g/l perlu dievaluasi agar tidak menurunkan pertumbuhan yang nyata. Namun, gula tidak dapat dihilangkan sama sekali walau tabung menggunakan ventilasi untuk meningkatkan jumlah CO2 yang masuk ke dalam tabung (melalui ventilasi berupa filter berukuran 0,22 µ). Penggunaan tabung magenta maupun tabung kaca tidak berbeda nyata terhadap pertumbuhan jahe merah, dengan demikian dipilih tabung kaca karena harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan tabung magenta. Tutup alumunium foil dapat digantikan dengan tutup plastik bening. Pada konsentrasi gula rendah (10 g/l) tunas tunggal dapat menghasilkan 2-6 tunas majemuk dalam waktu 4-5 minggu setelah tanam dan tanaman dapat membentuk akar dengan baik. Dengan demikian penyederhanaan media tanpa agar, menggunakan gula biasa (menggantikan sukrosa) dengan konsentrasi rendah (10 g/l) dan tanpa penambahan zat pengatur tumbuh (BAP) dapat dipergunakan untuk perbanyakan jahe merah secara in vitro. Aklimatisasi sedang dilakukan dan daya tumbuh di lapangan sedang diamati.(http://www.biotek.lipi.go.id)
Langganan:
Postingan (Atom)




